AJI Ingatkan Netralitas Media di Pillkada Bali

3 Agustus 2015, 09:30 WIB
ilsutrasi%2Bwordpress
ilustrasi (wordpress)

Kabarnusa.com – Kalangan media diingatkan untuk menjaga netralitas memegang indepenssi dalam peliputan pemilihan kepala daerah di enam kabupaten dan kota yang digelar serentak di Bali pada 9 Desember 2015.

Berkaca dari pilkada sebelumnya, seperti pemilihan gubernur (pilgub) dengan pertarungan dua pasangan calon (head to head), ternyata dalam perkembangannya muncul keberpihakan jurnalis.

Untuk itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar Hari Puspita, melalui siaran mengimbau kepada jurnalis yang tergabung dalam AJI, tetap menjaga independensinya dalam peliputan.

“Ini perlu menjadi kesadaran bersama insan pers di Bali untuk menjaga keberlangsungan pilkada damai, kondusif tanpa intrik negatif dan kekerasan. Karena apabila itu terjadi akan membawa akibat kerugian masyarakat,” sambungnya Senin 3 Desember 2015.

Sesuai amanat Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999 pasal 6, pers berperan untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM, serta menghormati kebhinnekaan.

Juga, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.

Karenanya, sudah sepatutnya jurnalis yang terlibat di dalamnya ikut bertanggung jawab dalam menyampaikan pemberitaan yang benar.

Pemberitaan yang tidak independen bisa berdampak pula pada lahirnya potensi gesekan massa pendukung masing-masing calon di tingkat akar rumput.

Tentunya, hal itu berisiko terburuk yang bisa terjadi setiap saat apabila media tidak turut serta menjaga adanya pemberitaan yang faktual dan netral.

Hanya saja, AJI tetap tidak bermaksud mengintervensi kebijakan dan otoritas media di Bali.

“Ini hanya sekadar himbauan saja, sifatnya. Karena masing-masing wartawan di medianya sendiri pasti punya kebijakan dan otoritas sendiri-sendiri,” katanya menegaskan.

Dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis, agar dalam koridor Undang-Undang Pers, Kode Etik Dewan Pers dan kode etik masing-masing organisasi profesi. Jadi sepatutnya kita menyampaikan fakta dengan benar, sesuai hati nurani,” ungkapnya.

“Masyarakat saat ini sudah pintar. Kalau jurnalis atau media hendak membelokkan fakta untuk kepentingan sesaat selama pilkada, misalnya. Kalau nanti ketahuan, justru akan merugikan citra media itu sendiri,” imbuhnya.

Selain terkait peliputan wartawan berita pilkada, AJI Denpasar juga mengingatkan tentang tanggung jawab moral tulisan advertorial atau berita berbayar media di Bali.

Meskipun berita berbayar, sepatutnya tetap mengedepankan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat, tidak menimbulkan keresahan atau memantik emosi pihak–pihak tertentu yang berseberangan.

Juga, tetap memperhatikan etika dan menghormati sesama calon kepala daerah.
Berita berbayar itu juga tidak perlu berakibat pada intervensi wartawan dalam peliputan. Sehingga jurnalis dalam meliput berita di lapangan tidak terpengaruh oleh kebijakan berita advertorial itu di masing-masing medianya.

“Setidaknya kita bisa mencegah sesuatu yang buruk, yang tidak perlu terjadi, akibat pemberitaan. Kita bisa menghindari dampak yang tidak perlu apabila kita punya visi sama dalam menjaga independensi terkait berita pilkada,” tandasnya. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini