PLTU Celukan Bawang Banyak Pekerjakan Warga Tiongkok

19 Agustus 2015, 18:03 WIB

Ombudsman%2BTinjau%2BPLTU%2BCelukan%2BBawang

Kabarnusa.com – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng banyak melibatkan pekerja asing asal Tiongkok.

Pada 11 Agustus lal, PLTU Celukan Bawang resmi beroperasi yang akan mengsuplay 40 persen energi listrik di Bali.

Baru
berjalan beberapa hari, sorotan mulai dialamatkan kepada PLTU lantaran
penggunaan petunjuk dengan bahasa mandarin, dan bendera perusahaan
dikibar lebih tinggi dari bendera merah putih, pihak pengelola juga
dikecam karena tidak ada pekerja lokal sebagai teknisi.

Anggota
komisi I DPRD Bali IGK Kresna Budi menjelaskan, pembangunan PLTU ini
dikerjakan perusahaan asal Tiongkok, China Huadian Engineering Co. Ltd
(CHEC) yang menggandeng perusahaan lokal, PT General energy Bali.

Kata
dia, CHEC menguasai saham mayoritas menjadi pengelola PLTU Celukan
Bawang. Perusahaan ini mempekerjakan 1.500 tenaga kerja untuk
konstruksi.

Sementara untuk pengoperasian dan pemeliharaan
diperlukan tenaga kerja sebanyak 500 orang. “Saat ini semua didominasi
oleh pekerja asal Tiongkok.

Tenaga kerja kita hanya sebagai
satpam. Tidak ada orang kita ahli teknologi listrik di sana,” kecam
anggota komisi I DPRD Bali IGK Kresna Budi kepada awak media belum lama
ini.

Menurutnya, tujuannya itu baik, tinggal alih teknologinya.
Amat perlu Bangsa Indonesia bekerja di sana, jangan hanya jadi satpam.

Ya,
tidak bisa alih teknologi kalau hanya jadi satpam. Dalam kerangka alih
teknologi itu perlu  ada prosentase komposisi tenaga kerja Tiongkok dan
Indonesia. Misalnya prosentasenya dari Tiongkok enam, Indonesia empat.

“Kan ada BATAN, kita paham soal kelistrikan. Masa tidak ada ahli kelistrikan dari Indonesia?” sambungnya.

Anggota
fraksi partai Golkar asal Buleleng ini mempertanyakan gembar-gembor
alih teknologi di PLTU Celukan Bawang jika komposisi pekerja mayoritas
asal Tiongkok.

“Menteri ESDM tolong didengarkan, di mana letak
alih teknologinya. Itu yang kita pertanyakan, karena tidak ada tenaga
kerja Indonesianya di sana.

Ini menjadi catatan penting.
Mudah-mudahan Menteri ESDM dan Presiden mendengar ini. Jadi, semua
terbuka untuk kebaikan kita semua,” tutupnya. (gek)

Artikel Lainnya

Terkini