Yogyakarta – Menjelang arus mudik Lebaran, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit campak, terutama pada anak-anak. Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat adanya lonjakan kasus dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi, meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, menyebut sebagian kasus terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi.
Kelompok usia 2 hingga 9 tahun menjadi yang paling banyak terdampak, sehingga dikhawatirkan mobilitas masyarakat saat mudik dapat memperluas penularan.
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menegaskan kerentanan terhadap campak tidak hanya dialami anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Ia menyoroti pentingnya kelengkapan vaksinasi Measles and Rubella (MR), mengingat kadar antibodi dapat menurun signifikan dalam lima tahun jika cakupan vaksinasi tidak optimal.
Saat ini, cakupan dosis pertama di DIY telah mencapai lebih dari 95 persen, namun dosis kedua masih sekitar 90 persen.
Ida mengimbau masyarakat agar tetap waspada tanpa perlu panik, dengan memperhatikan kondisi anggota keluarga yang berisiko, seperti bayi yang belum mendapat vaksin campak.
Sementara itu, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, dari Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, menekankan penularan campak sering terjadi tanpa disadari di lingkungan keluarga.
Gejala awal yang mirip penyakit lain, seperti demam berdarah, membuat masyarakat kerap terlambat menyadari risiko.
Ia mengingatkan, setiap orang perlu bersikap bijaksana. Jika merasa tidak enak badan, langkah pertama adalah menggunakan masker dan membatasi interaksi untuk mencegah penularan.***

