Akses Tol dan Persepsi Aman: Dua Kunci Utama Mengapa Yogyakarta Tak Pernah Sepi Cuan

Masyarakat kini melirik fenomena Micro Tourism—tren perjalanan skala kecil, jarak dekat, durasi singkat namun tetap kaya akan makna rekreasi.

2 Januari 2026, 19:36 WIB

Yogyakarta– Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini membawa warna baru bagi wajah pariwisata nasional. Tak lagi sekadar perjalanan jauh yang menguras kantong, masyarakat kini lebih melirik fenomena Micro Tourism—sebuah tren perjalanan skala kecil, jarak dekat, dengan durasi singkat namun tetap kaya akan makna rekreasi.

Tren ini bukan tanpa alasan. Selain lebih hemat biaya, eksplorasi area lokal dianggap jauh lebih praktis dan aman.

Hal ini dipertegas oleh peneliti pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. M. Yusuf, M.A., yang melihat lonjakan wisatawan di kota-kota seperti Yogyakarta dipicu oleh infrastruktur yang kian mumpuni.

“Kemudahan akses tol kini mampu memangkas waktu tempuh secara drastis. Inilah yang mendorong orang berbondong-bondong menuju destinasi favorit mereka,” ujar Yusuf, Jumat (2/12/2025).

Selain kemudahan akses, faktor perceived safety atau persepsi keamanan terhadap bencana menjadi magnet krusial. Yogyakarta, misalnya, tetap menjadi primadona karena dianggap memiliki tingkat risiko kerawanan yang rendah di mata publik.

Namun, Yusuf memberikan catatan penting bagi pengelola destinasi. Popularitas sebuah tempat harus dibarengi dengan kesiapan mitigasi bencana yang matang melalui tiga langkah strategis:

Identifikasi potensi bencana di lokasi.

Optimalisasi sumber daya sebagai kekuatan respons.

Prosedur taktis yang jelas saat keadaan darurat terjadi.

Melawan ‘Overtourism’ dengan Wellness

Padatnya pengunjung di akhir pekan seringkali membuat kenyamanan terusik. Untuk mengurai penumpukan atau overtourism,

Yusuf menawarkan solusi cerdas: Weekdays Tourism melalui program Health and Wellness.

Bayangkan bekerja atau sekadar memanjakan diri dengan terapi kesehatan di tengah ketenangan hari kerja.

“Sasarannya adalah para pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor. Ini akan meringankan beban infrastruktur sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih privat,” jelasnya.

Mengenai mahalnya tiket pesawat yang kerap dikeluhkan, Yusuf melontarkan kritik tajam. Baginya, wacana subsidi tiket hanyalah “bahasa pemasaran”.

Solusi konkret seharusnya menyentuh akar masalah, seperti penurunan pajak suku cadang pesawat, biaya maskapai, hingga harga avtur.

Ia juga mengajak wisatawan untuk beralih dari konsep Work From Mall (WFM) menuju Work From Tourism Destination. Namun, tujuannya bukan ke pusat perbelanjaan megah, melainkan ke jantung masyarakat.

“Mari kita coba berpihak kepada masyarakat melalui desa wisata. Ketimbang menghidupkan kapitalisme, kita berdayakan ekonomi warga lokal,” ajak Yusuf dengan penuh semangat.

Sebagai penutup, Yusuf menekankan pariwisata adalah hak setiap warga negara. Istilah healing atau penyegaran pikiran tidak boleh eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Ia mengapresiasi upaya pemerintah daerah dalam menyediakan ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan.

Meski gratis, kualitas tidak boleh dikorbankan. Pengelolaan profesional tetap menjadi kunci utama.

“Pariwisata inklusif harus menarik minat luas, termasuk tamu dari luar daerah, dengan tetap memegang teguh prinsip pengelolaan yang baik dan aspek keselamatan yang terjamin,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini