Antara Kedaulatan dan Ambisi Energi: Menakar Nasib Ekonomi Venezuela di Tangan AS

Pakar Ekonomi Politik Internasional UMY Prof. Faris Al-Fadhat, menyatakan, intervensi Washington bukan jaminan kesejahteraan bagi Venezuela.

5 Januari 2026, 20:37 WIB

Yogyakarta– Masa depan ekonomi Venezuela kini berada di persimpangan jalan yang gelap. Meski Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengambil alih sebagian kendali manajerial negara kaya minyak tersebut, optimisme pemulihan justru masih terkunci dalam “wilayah abu-abu” yang penuh ketidakpastian.

Pakar Ekonomi Politik Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, menyatakan, intervensi Washington bukanlah jaminan kesejahteraan bagi rakyat Venezuela.

Menurutnya, narasi running the country yang diusung AS masih menyisakan lubang besar dalam hal transparansi dan distribusi keuntungan.

Sektor migas, yang menyumbang 90 persen pendapatan nasional Venezuela, kini menjadi pusat gravitasi konflik kepentingan. Faris menyoroti ambiguitas rencana AS dalam mengoperasikan ladang-ladang minyak Caracas.

“Pertanyaan besarnya adalah apakah manfaat ekonomi tersebut akan sepenuhnya kembali ke Venezuela, atau justru lebih banyak dinikmati oleh korporasi-korporasi Amerika?” cetus Faris, Senin (5/1).

Ia mengingatkan publik untuk tidak amnesia terhadap sejarah. Krisis hebat yang mencekik fiskal Venezuela selama ini tidak lepas dari kebijakan blokade dan pembatasan ekspor yang justru dipelopori oleh AS.

Langkah tersebut secara sistematis meruntuhkan tulang punggung anggaran negara sebelum akhirnya AS datang dengan klaim sebagai juru selamat.

Di tengah reruntuhan ekonomi, masyarakat Venezuela terbelah. Kelelahan akut akibat kepemimpinan Presiden Nicolás Maduro yang dianggap otoriter dan gagal, membuat sebagian warga menyambut kehadiran AS dengan tangan terbuka.

“Sebagian masyarakat meyakini kehadiran AS bisa membawa perbaikan ekonomi karena kondisi di bawah Maduro memang sudah sangat memprihatinkan,” jelas Guru Besar HI UMY tersebut.

Namun, Faris menegaskan bahwa harapan publik seringkali berbenturan dengan realitas geopolitik.

Hingga detik ini, belum ada jaminan konkret bahwa pengambilalihan peran negara oleh AS akan memprioritaskan perut rakyat Venezuela di atas kepentingan energi global Washington.

Menutup analisisnya, Faris menekankan bahwa arah ekonomi Venezuela ke depan tidak akan ditentukan oleh retorika politik di mimbar internasional, melainkan oleh kebijakan nyata di lapangan.

Status Saat Ini: Sangat rapuh dan penuh ketidakpastian.

Risiko Utama: Eksploitasi sumber daya oleh pihak asing tanpa dampak trickle-down ke masyarakat lokal.

Sentimen Pasar: Menunggu kejelasan regulasi pasca-invasi.

“Situasinya masih menggantung. Apakah ini awal dari perbaikan atau justru babak baru dari krisis yang diperpanjang? Yang pasti, kepentingan energi AS seringkali lebih berat daripada agenda kemanusiaan,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini