Banjir Lahar Hujan di Merapi Tewaskan Tiga Orang

Sistem pemantauan curah hujan Merapi, kata Agus, telah mengirimkan peringatan dini bahaya lahar dan awan panas sejak pukul 15.15 WIB.

4 Maret 2026, 20:33 WIB

Sleman – Hujan deras berintensitas ekstrem mengguyur puncak Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2026) sore, memicu banjir lahar hujan di sejumlah sungai berhulu Merapi.

Peristiwa ini menewaskan tiga orang, melukai enam lainnya, serta menyebabkan dua korban masih dalam pencarian. Selain itu, sedikitnya 15 unit truk dilaporkan hanyut terseret arus.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso menjelaskan, hujan mulai turun sekitar pukul 15.00 WIB dan berlangsung selama empat jam dengan curah mencapai 144 milimeter.

Angka tersebut melampaui ambang batas aman potensi lahar.

Sistem pemantauan curah hujan Merapi, kata Agus, telah mengirimkan peringatan dini bahaya lahar dan awan panas sejak pukul 15.15 WIB.

Banjir lahar mulai terjadi sekitar pukul 16.30 WIB dan menerjang aliran Sungai Gendol, Apu, Trising, Senowo, serta Pabelan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang per 4 Maret 2026, tiga korban meninggal dunia masing-masing bernama Imam Setiawan (21), Fuad Hasan (25), dan Heru (24). Enam orang lainnya mengalami luka-luka, sementara dua korban masih dalam pencarian tim SAR gabungan.

Agus menambahkan, operasi pencarian dilakukan segera setelah kejadian. Pada Rabu (4/3/2026) pagi, tim menemukan dua korban tambahan dalam kondisi meninggal di bantaran Sungai Senowo dan Apu.

Ia juga menyebut derasnya arus lahar menyeret sedikitnya 15 unit truk yang berada di sekitar alur sungai. Proses pendataan dan evakuasi kendaraan masih berlangsung.

BPPTKG mengimbau masyarakat, khususnya penambang, untuk tidak beraktivitas di alur sungai berhulu Merapi saat hujan berintensitas sedang hingga tinggi.

Agus meminta pemerintah daerah terus menggencarkan sosialisasi potensi bahaya banjir lahar serta memantau kondisi sungai secara berkala.

Informasi resmi dari BPPTKG dan Badan Geologi diharapkan menjadi acuan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan.***

Berita Lainnya

Terkini