Brutal! Tendangan Kungfu ke Kepala Berujung Sanksi Seumur Hidup di Liga 4 DIY

Dwi Pilihanto Nugroho resmi dijatuhi vonis terberat: Larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup serta denda Rp 1.000.000.

9 Januari 2026, 10:08 WIB

Yogyakarta – Lapangan Sitimulyo, Bantul, yang seharusnya menjadi panggung talenta muda, mendadak berubah mencekam.

Sebuah insiden brutal yang mencederai nilai luhur sepak bola terjadi dalam laga pekan kelima Liga 4 Piala Gubernur DIY 2025/2026 antara UAD FC melawan KAFI FC, Selasa (6/1).

Menit ke-73 menjadi saksi saat pemain KAFI FC, Dwi Pilihanto Nugroho, melakukan tindakan di luar batas nalar olahraga. Sebuah “tendangan kungfu” mendarat telak di kepala pemain UAD FC, Amirul Muttaqin.

Insiden ini tak pelak memicu gelombang kecaman dan memaksa Asprov PSSI DIY mengambil langkah radikal demi menyelamatkan marwah sepak bola daerah.

“Kiamat” Karier bagi Sang Pelaku
Ketegasan tanpa kompromi ditunjukkan oleh Panitia Disiplin.

Melalui Keputusan Nomor 005/Pandis Liga4DIY PSSI DIY/I/2026, Dwi Pilihanto Nugroho resmi dijatuhi vonis terberat: Larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup serta denda Rp 1.000.000.

Vonis ini menjadi pesan keras bahwa kekerasan tidak memiliki tempat di atas rumput hijau. Pelanggaran Pasal 48 hingga Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025 menjadi dasar hukum untuk mengakhiri karier sang pemain selamanya.

Wasit di Bawah Mikroskop Evaluasi
Tak hanya pemain, perangkat pertandingan pun kini “diadili”. Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY, Wendy Umar Seno Aji, menegaskan bahwa seluruh rekaman live streaming telah diserahkan ke Komite Wasit untuk dibedah.

“Kami investigasi, kami cek, dan kami evaluasi apakah keputusan perangkat pertandingan sudah tepat. Jika ditemukan kelalaian, sanksi tegas sudah menanti mereka,” ujar Wendy di Wisma PSSI, Kamis (8/1).

Sebagai langkah darurat, PSSI DIY langsung menggelar refreshment Law of the Game (LOTG).

Mereka ingin memastikan bahwa setiap pengadil lapangan bukan hanya sekadar peniup peluit, melainkan benteng terakhir penegakan fair play.
Kondisi Korban: Menunggu Kepastian Medis

Di sisi lain, publik sepak bola DIY kini tertuju pada nasib Amirul Muttaqin. Meski hasil rontgen di RSUD Kota Yogyakarta menunjukkan tidak ada retak rahang, Amirul masih harus berjuang melawan rasa nyeri hebat setiap kali berbicara atau mengunyah.

Tim medis memberikan waktu observasi selama satu pekan. Jika kondisi tak kunjung membaik, prosedur CT Scan akan segera ditempuh.

Manajemen UAD FC sendiri memilih bersikap elegan dengan menyerahkan seluruh proses hukum sepenuhnya kepada PSSI DIY.
Final yang Terlukai

Ironisnya, meski dinodai insiden kelam, KAFI FC tetap melenggang ke partai final karena keunggulan poin yang tak terkejar. Kini, beban berat ada di pundak penyelenggara untuk memastikan partai puncak tidak lagi menjadi medan laga kekerasan.

“Harapan kami, final berjalan lancar tanpa mengurangi esensi pertandingan. Sportivitas adalah harga mati,” tutup Wendy.

Sepak bola DIY kini sedang terluka, namun langkah tegas ini diharapkan menjadi obat agar gairah lapangan hijau kembali suci, jauh dari bayang-bayang kekerasan yang mematikan karier dan mimpi.***

Berita Lainnya

Terkini