Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak lagi hanya bicara tentang grafik merah-hijau dan pertumbuhan profit semata. Melalui peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK), Indonesia resmi menancapkan taringnya dalam perlombaan ekonomi hijau global.
Langkah strategis OJK dan Pemerintah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya mengubah wajah pasar modal menjadi pusat pembiayaan berkelanjutan yang kredibel di mata dunia.
Dengan mengintegrasikan standar internasional ke dalam setiap transaksi karbon, Indonesia kini tak hanya menawarkan ladang investasi yang menguntungkan, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam menyelamatkan planet, sekaligus menjaring aliran modal hijau yang tengah membanjiri pasar global.
Pasar modal Indonesia baru saja menutup tahun 2025 dengan catatan emas. IHSG melesat 22,13% ke level 8.646,94, berkali-kali memecahkan rekor all-time high. Arus modal asing kembali deras mengalir dengan net buy mencapai Rp36,23 triliun di semester kedua, menandakan bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional telah pulih sepenuhnya.
Namun, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh berpuas diri. Meski kapitalisasi pasar terus membengkak, kontribusinya terhadap PDB masih di angka 72%.
“Kita masih punya ruang penguatan besar jika dibandingkan dengan India yang sudah mencapai 140% atau Malaysia di angka 97%,” ujar Mahendra dalam Pembukaan Perdagangan Perdana 2026 di Gedung BEI, Jumat (2/1).
Tahun 2026 akan menjadi tahun “pembersihan” dan penguatan transparansi.
OJK membidik pengungkapan Ultimate Beneficial Owner (pemilik manfaat akhir) secara lebih ketat untuk meminimalisir manipulasi pasar dan transaksi semu.
Tak hanya itu, OJK memberikan perhatian khusus pada “wajah baru” bursa: investor ritel dan anak muda. Dengan jumlah investor yang menembus 20,2 juta SID—di mana mayoritas berusia di bawah 40 tahun—perlindungan menjadi harga mati.
Tertibkan Finfluencer: OJK tengah memfinalisasi aturan baru bagi pemengaruh keuangan (finfluencer) yang ditargetkan terbit pertengahan 2026. Tujuannya jelas: transparansi, lisensi, dan tanggung jawab dalam memberikan edukasi investasi.
Disiplin Pasar: Tegasnya langkah OJK terlihat dari sanksi denda kepada 121 pihak serta pencabutan izin bagi pelaku usaha yang melanggar aturan sepanjang tahun lalu.
Senada dengan Mahendra, Direktur Utama BEI Iman Rachman meluncurkan Masterplan Pengembangan Pasar Modal 2026-2030. Visinya ambisius: menjadikan BEI sebagai bursa yang inovatif, transparan, dan inklusif pada 2030.
Salah satu motor utamanya adalah Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Melalui kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia bersiap menghadirkan ekosistem perdagangan karbon yang kredibel dan berstandar internasional.
Merespons bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini, OJK mengaktifkan kebijakan khusus. Restrukturisasi kredit dan kemudahan klaim asuransi segera dijalankan bagi masyarakat terdampak, memastikan roda ekonomi di daerah tetap berputar meski dalam kondisi sulit.
Dengan sinergi kuat antara KSSK, pemerintah, dan pelaku pasar, 2026 diproyeksikan menjadi tahun pendalaman likuiditas. Dari penguatan institusi seperti Dana Pensiun dan Asuransi hingga peningkatan kualitas emiten baru, Indonesia sedang bergegas bertransformasi dari pasar domestik yang tangguh menjadi pemain global yang disegani.***

