Dakwah Tak Lagi Manual, MUI Bali Didorong Adaptasi Strategi Berbasis Digital Unite

KH Masduki Baidlowi menekankan pentingnya adaptasi organisasi atas perubahan zaman dan penguatan peran MUI sebagai "tenda besar" umat Islam.

28 Februari 2026, 16:47 WIB

Denpasar – Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Masduki Baidlowi, secara resmi melantik jajaran pengurus MUI Provinsi Bali masa hikmat 2025-2030.

Usai melantik, Masduki menekankan pentingnya adaptasi organisasi terhadap perubahan zaman dan penguatan peran MUI sebagai “tenda besar” umat Islam.

Dalam sambutannya, Masduki mengingatkan, MUI bukan sekadar representasi organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti NU, Muhammadiyah, atau Persis.

Berdasarkan data objektif, terdapat lebih dari 30% umat Islam yang tidak tergabung dalam ormas tertentu, namun tetap bernaung di bawah arahan MUI.

MUI adalah tenda besar dan organisasi payung. Kita harus berkomitmen untuk terus memperbarui semangat dalam menjalankan program-program penting, khususnya di Bali,” ujarnya.

Menyoroti bidang Informasi dan Komunikasi, Masduki memaparkan pergeseran besar dalam dunia dakwah.

Saat ini, sekitar 64% penduduk Indonesia adalah generasi muda (Milenial, Gen Z, dan Gen Alpha) yang merupakan digital native.

Masduki memberikan catatan kritis mengenai perubahan otoritas keagamaan:

Pergeseran Otoritas: Saat ini, otoritas keagamaan mulai bergeser dari sosok ulama secara fisik ke sistem algoritma di media sosial.

Strategi Dakwah: Metode dakwah lama (model Baby Boomer) tidak lagi efektif untuk menjangkau anak muda yang kritis dan cerdas.

Adaptasi Teknologi: Mengutip perintah Al-Qur’an untuk mengajak ke jalan Tuhan dengan cara yang baik (hikmah), Masduki meminta pengurus MUI Bali untuk mengadopsi metodologi dakwah digital agar tidak ditinggalkan generasi muda.

KH Masduki juga berpesan agar umat Islam di Bali menjadi bagian integral dari ekosistem kemasyarakatan.

Mengingat jumlah umat Islam di Bali mencapai sekitar 500 ribu jiwa (10% dari total populasi), keterbukaan dan kerja sama dengan masyarakat mayoritas serta pemerintah daerah menjadi kunci.

Pihaknya memuji konsep kearifan lokal Bali, seperti sistem Subak, yang telah diakui dunia sebagai model pembangunan inklusif dan gotong royong yang searah dengan nilai-nilai kebaikan universal dalam Islam.

Jangan membangun komunitas yang eksklusif karena itu bisa memicu radikalisme.

“Kita harus menyatu dalam kemasyarakatan, bekerja sama secara ekonomi, dan membangun kerukunan secara evolusioner,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, KH Masduki mengapresiasi keharmonisan yang telah terjalin di Bali.

Ia berharap pengurus MUI Bali yang baru dapat menjaga sistem belajar dan peran guru/ulama agar tetap relevan di mata anak muda, di tengah kemudahan akses informasi politik, ekonomi, dan sosial di dunia digital. ***

Berita Lainnya

Terkini