Dari Diskusi AJI Denpasar, Jiwa Wirausaha Harus Ditumbuhkan Sejak Dini

29 Desember 2016, 07:06 WIB

DENPASAR – Seiring tantangan yang kian ketat di era digital menuntut kesiapan bekal pengetahuan dan skil atau ketrampilan setiap individu sejak dini agar bisa berkompetisi merebut pasar.

Sejumlah pembicara dari kalangan akademisi, praktisi bisnis dan birokat dihadirkan dalam diskusi tantangan dan kendala wirausaha muda di era digital yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar bekerjasama dengan Bank Mandiri di Kantor Perwakilan Harian Bisnis Indoenesia di Jalan Sudirman Denpasar, Rabu (28/12/2016).

Putu Sudiarta owner Bamboomedia, Sayu Ketut Sutrisna Dewi dan Yones Deputi Direktur Manajemen Strategi, FPK dan Kemitraan Pemerintah Daerah Otoritas Jasa Keuangan Bali Nusra, berbagi pengetahuan dan kiat bisnis menghadapi kompetisi kepada awak media dan mahasiswa.

Sudiarta berkisah bagaimana dirinya mulai membangun usaha berbasis digital yang dirintis sejak tahun 2002 selepas dirinya kuliah. Awalnya, dia mengalami dilema antara melanjutkan jenjang studi lebih tingggi atau berbisnis. Lewat kegigihan dan minatnya yang besar terhadap bidang informasi teknologi informasi digital hingga berkembang pesat.

Baginya, yang terpenting dalam memulai bisnis, kesungguhan dan berani melahirkan kreativitas, ide-ide baru. Jiwa wirausaha atau entrepreuneurship harus ditumbuhkan sejak dini saat di bangku sekolah. Beberapa tokoh bisnis dunia yang sukses seperti Bill Gates, Stevie Jobs, telah membuktikan bahwa pendidikan bukan jaminan seseorang bisa meraih sukses dalam hidup.

Mereka berhasil karena keberanian melahirkan gagasan inovasi brilian original dan kreativitas yang kemudian menjadi pelopor dunia teknologi digital. Untuk bisa melahirkan inovasi, memang harus direncanakan secara matang.

“Seorang yang memiliki jiwa wirausaha, harus berani melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain,” kata Sudiarta. Namun dia juga meningatkan, agar mereka yang memulai bisnis tidak mempertaruhkan hidupnya mengejar sesautu yang tidak pasti.

Hal tak jauh beda disampaikan Sayu, selama ini ada kesalahan mainset atau cara pandang bahwa menumbuhkan jiwa bisnis itu setelah lulus sekolah atau kuliah. Padahal, memiliki jiwa wirausaha itu harus dibangun sejak dini saat berada di sekolah.

Belum lagi, masih banyak persepsi di masyarakat bahwa kesuksesan itu diukur dari pekerjaan atau profesi mapan seperti menjadi PNS, dokter, insinyur dan seterusnya. Saat ini, perkembangan dunia era digital, harus dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang akan memulai bisnis. Banyak hal bisa dilakukan dengan pemanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha.

Soal kendala klasik dalam memulai bisnis, kata Sayu, bahwa modal hendaknya tidak diartikan selalu dengan uang. Modal usaha itu cukup banyak, seperti jaringan bisnis, kepribadian dan jiwa berbisnis yang kuat.

“Modal itu penting, tetapi tidak hanya dalam bentuk uang,” katanya mengingatkan. Sementara Yones dari OJK melihat dari semua kunci keberhasilan para pengusaha atau pebisnis, setidaknya mereka memiliki 10 sikap dasar dalam berbisnis.

Pendidikan dan intelegensia, bukan satu-satunya dan faktor penentu keberhasilan bisnis atau wirasusaha. Dia menyebut diantaranya sikap jujur, disiplin, kesungguhan dan pribadi yang baik dan mudah bergaul interpersonelship. “Intelegensi itu sebenarnya berada di urutan 21 dalam kunci keberhasilan dalam berbisnis,” imbuhnya.

Pada bagian lain, Yones menegaskan saat ini, tidak ada jalan lain kecuali harus masuk dalam dunia digital jika ingin membangun wirausaha apapun. Jika tidak, maka akan tergilas zaman dan bisnis tidak akan bisa berkembang dengan baik. (rhm)

Berita Lainnya

Terkini