Yogyakarta – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan kualitas kepemimpinan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari karakter rakyatnya.
Hal itu disampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu (22/2/2026).
Dalam ceramah bertema “Bagaimana Al-Qur’an Memandu Kehidupan Bernegara?”, Dahnil menyebut pemimpin dan rakyat merupakan dua sisi yang saling mencerminkan. Ia mengajak jamaah untuk melakukan refleksi bersama mengenai jalannya proses bernegara.
“Pemimpin adalah cermin dari rakyatnya, dan rakyat juga cermin dari pemimpinnya,” ujarnya.
Dahnil menekankan pentingnya keilmuan sebagai fondasi dalam praktik bernegara. Menurutnya, tanpa basis pengetahuan dan integritas, kebijakan yang dihasilkan berisiko menjauh dari nilai keadilan.
Pihaknya juga menyoroti tantangan demokrasi, di mana masyarakat dituntut menghadirkan pemimpin yang amanah, berintegritas, dan dapat dipercaya.
Selain itu, Dah digital yang berpotensi mendistorsi kebenaran. Ia menekankan perlunya literasi digital agar masyarakat tidak terjebak dalam bias algoritma media sosial.
“Jangan sampai algoritma yang menentukan cara kita melihat benar dan salah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil menguraikan empat esensi kehidupan bernegara menurut Al-Qur’an, yakni keadilan, musyawarah, persatuan, dan tanggung jawab.
Dari keempat prinsip itu, ia menilai keadilan sebagai fondasi utama yang harus terus diperjuangkan.
“Keadilan adalah diskursus yang tidak pernah selesai hingga akhir zaman,” pungkasnya.***

