Gunungkidul – Kawasan Karst Gunung Sewu, yang selama ini dikenal sebagai primadona wisata alam di selatan Jawa, kini tengah berada di persimpangan jalan.
Pesatnya pembangunan infrastruktur pariwisata dalam beberapa tahun terakhir mulai memicu kekhawatiran serius terkait keberlangsungan ekosistem dan ruang hidup masyarakat lokal.
Bentang Alam yang Terancam
Sejumlah proyek fisik skala besar dilaporkan telah mengubah wajah bentang alam karst secara signifikan.
Para ahli mengingatkan kerusakan pada struktur karst bukan sekadar isu estetika, melainkan ancaman bagi sistem hidrologi bawah tanah.
Sebagai kawasan penyangga air, kerusakan di wilayah ini berisiko mengganggu pasokan air bersih bagi komunitas pedesaan dan pesisir dalam jangka panjang.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), A. B. Widyanta, menekankan pengelolaan Gunung Sewu harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Menurutnya, kawasan ini adalah hasil relasi panjang antara manusia dan alam yang berfungsi sebagai penopang kehidupan di wilayah minim air permukaan.
“Karst Gunung Sewu adalah ruang hidup… pengelolaannya perlu dilakukan secara hati-hati. Bangunan pariwisata mungkin tampak megah, tetapi ia berisiko menghancurkan nilai luhur yang selama ini dijaga masyarakat,” ujar Widyanta pada Selasa (20/1/2026).
Widyanta juga menyoroti adanya pergeseran makna ruang. Tempat yang dulunya memiliki nilai kultural dan simbolik bagi warga kini perlahan berubah fungsi menjadi komoditas ekonomi, yang sering kali menempatkan kepentingan investasi di atas suara publik.
Perspektif serupa datang dari kalangan masyarakat sipil. Pitra Hutomo menilai adanya kesalahpahaman dalam logika pembangunan pariwisata saat ini.
Karst sering kali hanya dipandang sebagai objek ekonomi, padahal menyimpan kerentanan lingkungan yang tinggi.
“Gunungkidul seharusnya dirawat sebagai ruang hidup, bukan diperlakukan sebagai wilayah eksploitasi,” tegas Pitra.
Senada dengan hal tersebut, Himawan Kurniadi dari NGO Ruang, menyoroti secara spesifik proyek-proyek yang membelah bukit karst, seperti proyek On The Rock.
Ia menilai pembangunan semacam itu minim perhitungan risiko bencana.
Risiko Utama: Kerusakan ekosistem bawah tanah.
Dampak Sosial: Potensi konflik agraria akibat minimnya partisipasi publik.
Ancaman Fisik: Risiko kebencanaan yang mengintai keselamatan warga sekitar.
Daya tarik Gunungkidul memang tak terbendung, namun para ahli sepakat bahwa keberlanjutan ekologis harus menjadi kompas utama dalam pembangunan.
Wisata yang megah tidak akan berarti banyak jika pada akhirnya mengorbankan sumber daya air dan ruang hidup masyarakatnya sendiri. ***

