Eksibisi ‘Semburat Bali’ Ajak Pengunjung Menyelami Negosiasi Budaya dan Tradisi

Labyrinth Art Gallery di Nuanu Creative City membedah realitas keseharian yang kompleks dan cair melalui pameran kelompok Semburat Bali

9 Februari 2026, 11:54 WIB

Tabanan – Selama puluhan tahun, Bali sering kali terperangkap dalam bingkai visual yang statis: pura yang tenang, sawah yang hijau, dan ritual yang eksotis. Namun, di balik tirai estetika tersebut, terdapat denyut keseharian yang jauh lebih kompleks dan cair.

Labyrinth Art Gallery di Nuanu Creative City mencoba membedah realitas keseharian yang kompleks dan cair melalui pameran kelompok “Semburat Bali”. Di bawah kurasi Samuel David, eksibisi ini menjadi ruang refleksi bagi 12 seniman untuk jujur merekam bagaimana Bali hari ini bernapas di antara tradisi yang luhur dan desakan modernitas yang tak terelakkan.

Pameran kelompok bertajuk “Semburat Bali” resmi dibuka pada 7 Februari hingga 22 Maret 2026, membawa misi untuk memotret Bali bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai organisme yang hidup, bernegosiasi, dan terus berubah.

Dikuratori Samual David, pameran ini menampilkan karya dari 12 seniman yang praktiknya tumbuh dari akar sosial dan budaya Bali kontemporer.

Semburat Bali” seolah menjadi jendela bagi publik untuk melihat bagaimana ritual spiritual, budaya digital, hingga gelombang migrasi berkelindan membentuk wajah Bali hari ini.

Selama ini, Bali sering kali dikurung dalam bingkai ornamen dan estetika yang statis. Namun, David menawarkan perspektif berbeda. Pindah dari Jakarta ke Bali empat tahun silam memaksanya untuk “belajar ulang” tentang denyut nadi pulau ini.

“Pameran ini menawarkan pandangan lebih dekat pada realitas sehari-hari dan gagasan-gagasan yang hidup di dalamnya. Alih-alih menghindari hal-hal yang rumit, kami memberi ruang agar kompleksitas itu bisa hadir bersama,” ungkap Samual.

Senada dengan sang kurator, Kelsang Dolma, Gallery Director Labyrinth Art Gallery, menekankan pentingnya relevansi konteks bagi institusi seni yang berpijak di tanah Bali. Menurutnya, tradisi dan praktik modernitas di Bali tidak saling meniadakan, melainkan berjalan paralel dalam tegangan yang unik.
Ragam Perspektif dari 12 Perupa

Kekuatan pameran ini terletak pada keberagaman latar belakang para senimannya. Sebagian merupakan putra daerah yang lahir dan besar dalam tradisi Bali, sementara sebagian lainnya adalah pendatang yang telah melebur dalam jejaring sosial lokal.

Daftar seniman yang terlibat meliputi:

Agus Mediana & Eka Sutha

I Gede Sukarya & I Wayan Piki Suyersa

Imam Sucahyo & Made Wahyu Senayadi

Putu Septa & Rio Saren

Sarita Ibnoe & Suartama Bijal

Sugiada Anduk & Ni Wayan Wicitra Pradnyaratih. ***

 

 

 

Berita Lainnya

Terkini