Era Baru Kemandirian Rumput Laut di Sumba Timur: Petani Kaliuda Panen 6 Ton Bibit Unggul Perdana

petani rumput laut di Desa Kaliuda, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini memasuki babak baru kemandirian budi daya.

4 November 2025, 05:15 WIB

Sumba Timur– Setelah bertahun-tahun menghadapi tantangan penurunan kuantitas dan kualitas bibit akibat penggunaan berulang, petani rumput laut di Desa Kaliuda, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini memasuki babak baru kemandirian budi daya.

Melalui kolaborasi strategis antara Konservasi Indonesia (KI), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Manandang Kaliuda, Dinas Perikanan Kabupaten Sumba Timur, dan Universitas Mataram, petani sukses memanen enam ton bibit unggul.

Pencapaian ini ditandai pula dengan penjualan perdana bibit rumput laut kualitas unggul dan peresmian rumah ikat rumput laut milik BUMDes.

Sejak awal 2025, Konservasi Indonesia bersama mitra lokal mengembangkan usaha pembibitan rumput laut berkelanjutan di kebun uji coba hamparan Lendunga. Sebanyak 80 kilogram bibit unggul didatangkan dari Lombok antara Mei hingga Juli 2025.

Bibit ini telah berkembang pesat menjadi 1,8 ton bibit sehat, mencakup empat strain potensial: Kappaphycus striatus (Sacol), Kappaphycus striatus (Payaka), Cottoni Lokal, dan SP1.

Berkat perawatan intensif dan pendampingan teknis berbasis sains, hasil panen keempat tahun ini melonjak hingga enam ton bibit unggul yang siap menjadi modal awal bagi pembudidaya di Kaliuda dan sekitarnya.

“Biasanya kami hanya mengikat sekitar 500 kilogram bibit. Sekarang, dengan hasil enam ton, dua bahkan tiga rumah ikat penuh. Dulu kami kesulitan bibit, sekarang justru bisa menjual. Ini langkah besar menuju kemandirian desa dan peningkatan pendapatan masyarakat,” ungkap Christiani Valentine Salean, Ketua BUMDes Manandang.

Vice President Program Konservasi Indonesia, Fitri Hasibuan, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras dan dukungan pendanaan dari Global Fund for Coral Reefs (GFCR) melalui program TeKSI.

Program ini mendorong model budi daya yang menguntungkan, adil, dan berdampak positif terhadap terumbu karang di Sumba Timur.

Pengembangan bibit unggul tidak hanya meningkatkan produktivitas budi daya, tetapi juga berkontribusi pada konservasi ekosistem pesisir yang sehat.

Kini masyarakat tidak lagi bergantung pada pasokan bibit dari luar, melainkan dapat menjual bibit unggul perdananya yang menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian laut,” jelas Fitri.

Kerja sama dengan peneliti Universitas Mataram juga vital dalam meningkatkan kualitas bibit.

“Dengan adanya bibit baru ini, hasil panen dapat menjadi lebih banyak dan lebih stabil sepanjang tahun serta pendapatan petani pun ikut meningkat,” tambah Fitri.

Keberhasilan lainnya yang menonjol adalah penjualan perdana bibit unggul, ditandai dengan penyerahan simbolis bibit dari BUMDes Manandang kepada pembeli.

Peresmian rumah ikat rumput laut BUMDes juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi para petani.

Markus Windi, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sumba Timur, mengapresiasi kerja sama ini.

BUMDes Manandang berhasil menunjukkan bahwa usaha pembibitan bisa menjadi pilar ekonomi desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami berharap akan muncul lebih banyak desa mandiri yang mengembangkan usaha pembibitan berkelanjutan,” tutur Markus.

Inisiatif bersama ini membuktikan bahwa ketahanan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat tumbuh bersama, memberikan harapan baru bagi peningkatan penghasilan masyarakat pesisir di Desa Kaliuda.***

Berita Lainnya

Terkini