Jakarta – Gubernur Bali, Wayan Koster, melakukan pertemuan strategis dengan Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri RI, Cheka Virgowansyah, di Gedung F Kemendagri, Jakarta, Jumat (23/1).
Pertemuan tersebut fokus pada pelaporan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait penambahan penyertaan modal Pemerintah Provinsi Bali kepada PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali sebesar Rp445 miliar.
Langkah ini diambil guna memperkuat posisi BPD Bali sebagai pilar utama perekonomian daerah agar mampu bersaing dengan perbankan swasta nasional. Pengesahan modal ini sebelumnya telah dilakukan melalui Rapat Paripurna ke-26 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025-2026.
Gubernur Koster memaparkan BPD Bali menunjukkan performa kesehatan keuangan yang sangat baik. Sepanjang tahun 2025, bank daerah tersebut berhasil mencatatkan laba bersih mencapai Rp1,1 triliun.
“BPD Bali dikelola dengan profesional dan sehat. Pertumbuhan aset dan pendapatan bunga bersihnya signifikan, sehingga pemerintah daerah berkewajiban memperkuatnya agar semakin berdaya saing dan berkontribusi besar bagi pembangunan Bali,” tegas Koster.
Selain penguatan modal, pertemuan tersebut juga membahas visi besar Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Koster menekankan bahwa kemajuan ekonomi Bali tidak boleh terlepas dari pelestarian budaya. Salah satu instrumen kuncinya adalah penguatan Desa Adat yang menjadi wadah local genius masyarakat Bali.
“Di Bali, desa adat adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Jika ikatan emosional dan sosial ini hilang, maka jati diri Bali tidak akan bisa ditemukan di mana pun,” tambahnya.
Merespons paparan tersebut, Dirjen Otda Cheka Virgowansyah memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Pemprov Bali. Menurutnya, Bali merupakan contoh nyata daerah yang mampu melestarikan kebudayaan secara mandiri tanpa harus bergantung pada status atau insentif keistimewaan khusus.
“Wisatawan datang ke Bali untuk melihat kearifan lokal yang otentik, bukan mal modern. Local genius itu mahal harganya,” ujar Cheka.
Ia juga menyoroti keberhasilan Bali dalam melembagakan kearifan lokal, seperti keberadaan UPTD Kesehatan Tradisional Bali. Cheka mendorong daerah lain di Indonesia untuk mereplikasi praktik baik tersebut melalui kerja sama antardaerah guna menjaga kelestarian budaya nusantara.
Pertemuan ini mempertegas posisi Bali sebagai provinsi yang konsisten menjaga keseimbangan antara kekuatan ekonomi melalui perbankan daerah dan ketahanan jati diri melalui penguatan adat dan budaya. ***

