Yogyakarta – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan awan panas guguran (APG) dalam dua hari terakhir.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 10 Februari, dan Rabu, 11 Februari 2026.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan, awan panas guguran teramati pada Rabu (11/2) pukul 17.05 WIB dengan estimasi jarak luncur 1.500 meter, amplitudo maksimum 40 mm, dan durasi 140,5 detik ke arah barat daya, tepatnya hulu Kali Boyong.
Sehari sebelumnya, Selasa (10/2) pukul 21.13 WIB, Merapi juga meluncurkan awan panas guguran sejauh 1.200 meter dengan amplitudo maksimum 43 mm dan durasi 121,7 detik ke arah barat daya, meliputi hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.
Selain aktivitas vulkanik, hujan terpantau mengguyur sejumlah lereng Merapi pada Rabu sore.
BPPTKG mencatat hujan di lereng selatan mulai pukul 16.02 WIB dengan curah 12 mm, durasi 12 menit, dan intensitas 59 mm/jam.
Hujan juga terjadi di lereng barat pukul 16.09 WIB dengan curah 2 mm serta di puncak Merapi pukul 16.07 WIB dengan curah 5 mm. Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar di sungai-sungai berhulu Merapi.
Dalam laporan pengamatan periode 11 Februari 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan hingga mendung dengan suhu 23–24,9 derajat Celsius dan kelembaban 74–74,3 persen.
Secara visual, gunung tampak berkabut tanpa asap kawah. Data kegempaan mencatat 28 kali gempa guguran, 23 gempa hybrid/fase banyak, serta tiga gempa vulkanik dangkal.
BPPTKG menegaskan, tingkat aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Agus menegaskan suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran. Masyarakat diminta menjauhi daerah potensi bahaya serta mematuhi rekomendasi BPPTKG.
“Apabila terjadi perubahan aktivitas signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” ujarnya.***

