Yogyakarta -Temuan roti berjamur dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu perhatian publik.
Ratusan roti yang menjadi bagian dari menu MBG kering dilaporkan berjamur di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sehingga dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kasus serupa juga dilaporkan di sejumlah sekolah lain, antara lain SMPN 1 Delanggu, serta beberapa sekolah dasar di Sumatera Selatan, seperti SDN 1 Tugu Papak di Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, hingga sejumlah SD di wilayah Kotaagung Timur.
Menu roti dipilih karena dianggap praktis untuk penyimpanan dan distribusi, terutama selama bulan puasa. Namun, muncul kritik terkait mutu dan kelayakan konsumsi produk tersebut.
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D., menegaskan temuan roti berjamur harus menjadi perhatian serius.
Menurutnya, meski program MBG bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah, aspek keamanan pangan tidak boleh diabaikan.
“Roti yang sudah berjamur menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme dan tidak layak dikonsumsi,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).
Zullies menjelaskan, kejadian ini umumnya terkait dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol.
Dia menambahkan, roti berjamur biasanya ditumbuhi kapang seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus, yang berpotensi menghasilkan mikotoksin berbahaya.
Konsumsi roti berjamur dapat menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari mual, muntah, diare, hingga reaksi alergi. Pada anak-anak, risiko kesehatan dinilai lebih besar karena sistem imun belum berkembang sempurna.
Ia menekankan, roti berjamur tidak selalu berarti melewati masa kedaluwarsa, karena kondisi penyimpanan yang lembap atau bersuhu hangat dapat mempercepat pertumbuhan jamur.
Tanda fisik roti tidak layak konsumsi antara lain bercak jamur berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan, bau apek, tekstur lembap, serta perubahan warna.
Untuk mencegah kasus serupa, Zullies mendorong pengawasan mutu pangan dalam program MBG dilakukan lebih ketat, mulai dari tahap produksi hingga distribusi.
Ia juga menyarankan pelatihan keamanan pangan bagi pihak penyedia makanan sekolah agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan. ***

