Harga Emas Antam Tembus Rekor, Pakar UMY Ingatkan Risiko Ketidakstabilan Ekonomi Global

Menurut dosen UMY Ayif Fathurrahman harga emas biasanya terjadi saat kepercayaan masyarakat terhadap instrumen keuangan konvensional menurun.

30 Januari 2026, 10:21 WIB

Yogyakarta – Harga emas kembali mencatat lonjakan signifikan. Pada Kamis, 29 Januari 2026, harga emas Antam naik Rp165.000 per gram dan mencapai rekor tertinggi.

Menurut Dr. Ayif Fathurrahman, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tren ini bukan sekadar pergerakan pasar biasa, melainkan sinyal awal ekonomi global tengah menghadapi ketidakpastian serius.

Ayif menjelaskan, kenaikan harga emas biasanya terjadi ketika kepercayaan masyarakat terhadap instrumen keuangan konvensional menurun. Saat bunga global fluktuatif dan relatif rendah, investor cenderung beralih ke aset aman, yaitu emas.

Dalam teori ekonomi, emas dikenal sebagai safe haven asset yang diminati ketika kondisi ekonomi dan geopolitik tidak menentu. Ayif menyebut tiga faktor utama yang mendorong lonjakan permintaan emas saat ini:

– Ketidakpastian ekonomi global pasca-pandemi COVID-19, diperburuk konflik Rusia–Ukraina, ketegangan Israel–Palestina, dan rivalitas antarnegara besar.

– Menurunnya daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi, sehingga menabung di bank tidak lagi efektif menjaga nilai kekayaan.

– Kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang global.

Meski menjadi pilihan rasional bagi investor, Ayif mengingatkan bahwa lonjakan harga emas juga berisiko bagi perekonomian domestik.

Jika terlalu banyak dana masyarakat terserap ke emas, perputaran uang di sektor riil bisa melambat dan berdampak pada pengangguran serta kemiskinan.

Ia menekankan perlunya strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi agar ekonomi nasional lebih siap menghadapi guncangan global.

“Masalahnya bukan sekadar harga emas yang naik. Kenaikan ini justru mencerminkan adanya persoalan ekonomi. Pemerintah sebaiknya fokus pada penanganan inflasi dan mengurangi ketergantungan impor,” tegasnya.***

Berita Lainnya

Terkini