Yogyakarta – Sebanyak 40 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta diduga mengalami keracunan pangan saat menjalani program Early Clinical Exposure (ECE) di RSJ Grhasia pada akhir Desember lalu.
Hingga Senin (5/1), sorotan utama tertuju pada satu menu snack: risoles mayo.
Dalam konferensi pers yang digelar di RSJ Grhasia, Direktur RSJ Grhasia, dr. Akhmad Akhadi S, mengungkapkan risoles mayo menjadi “tersangka” utama di antara dua menu lainnya, yakni tahu sarang burung dan banana cake.
Bukan tanpa alasan, proses pengolahan risoles tersebut dianggap paling rentan secara mikrobiologi. Berdasarkan kronologi yang dihimpun:
Minggu (28/12): Risoles diproduksi dan disimpan di dalam freezer.
Senin Dini Hari (29/12): Risoles dikeluarkan dan digoreng kembali.
Pukul 08.00 WIB: Snack tiba di lokasi dan dikonsumsi mahasiswa.
“Proses dari produksi, penyimpanan di pembeku, hingga pengolahan ulang (digoreng kembali) menjadi faktor krusial yang kami soroti. Dari aspek perlakuan, risoles mayo adalah yang paling rentan,” jelas dr. Akhmad.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa penyedia konsumsi bukanlah UMKM kecil, melainkan perusahaan boga besar yang terdaftar resmi dalam sistem pengadaan elektronik pemerintah. Mengingat nilai transaksi yang diatur ketat oleh sistem marketplace elektronik, dr. Akhmad menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak vendor.
“Karena ini masuk dalam sistem pengadaan resmi, penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas standar keamanan pangan yang mereka sajikan,” tegasnya.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dewi Rohanawati, memaparkan reaksi tubuh para mahasiswa sangat bervariasi. Ada yang langsung merasakan gejala pada sore hari, namun ada pula yang baru jatuh sakit keesokan harinya.
“Secara umum kondisi mulai stabil, namun dua mahasiswa masih harus menjalani perawatan intensif di RS Sakinah Idaman dan RS PKU Gamping,” ungkap Dewi.
Pihak kampus kini memberlakukan pemantauan 24 jam untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang kondisinya memburuk tanpa penanganan.
Meski dugaan kuat mengarah pada risoles mayo, kepastian penyebab keracunan masih bergantung pada uji ilmiah.
Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Dinkes DIY tengah melakukan biakan mikrobiologi yang membutuhkan waktu minimal tujuh hari untuk mengungkap jenis kuman atau toksin yang terkandung dalam makanan tersebut.
Insiden ini menjadi catatan kelam bagi program ECE yang sejatinya sudah berjalan rutin setiap tahun tanpa kendala. Kini, keamanan pangan dalam kegiatan institusi menjadi alarm bagi semua pihak agar kejadian serupa tak terulang kembali.***

