Indeks Persepsi Korupsi Turun, KPK Dorong Pendidikan Antikorupsi di Kampus

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menegaskan perguruan tinggi tidak hanya pusat keilmuan namun juga tempat menanamkan keteladanan integritas.

27 Februari 2026, 20:59 WIB

Yogyakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan pentingnya penguatan integritas di setiap level pengambil kebijakan untuk menutup celah penyimpangan dan memperbaiki tata kelola publik.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, dalam kuliah umum bertema Membangun Budaya Integritas di Perguruan Tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta (Polkesyo), Jumat (27/2).

Ibnu menekankan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat keilmuan, tetapi juga sebagai tempat menanamkan keteladanan integritas.

“Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Praktik korupsi sering muncul bukan dari niat pribadi, melainkan dari kelemahan sistem yang memberi ruang penyimpangan,” ujarnya.

Menurutnya, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum.

Pembenahan tata kelola dan penguatan integritas individu dinilai lebih mendasar agar kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan publik.

Pernyataan ini diperkuat dengan data terbaru Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2025 dari Transparency International Indonesia yang menunjukkan skor Indonesia turun menjadi 34 dari 100, menempatkan Indonesia di peringkat 109 dari 182 negara.

Ibnu juga menyoroti pentingnya pendidikan antikorupsi (PAK) sebagai instrumen pencegahan.

KPK melalui Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) telah mengembangkan program advokasi kebijakan, penyusunan standar kompetensi, pelatihan guru dan dosen, hingga penguatan kegiatan kemahasiswaan.

“Implementasi pendidikan antikorupsi dilakukan dengan mengintegrasikan nilai integritas ke dalam kurikulum dan memperkuat ekosistem pendidikan,” jelasnya.

Selain itu, KPK mendorong penguatan kapasitas aparatur masa depan melalui pendidikan tinggi dan kedinasan, termasuk di Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin), Politeknik Statistika, dan Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI STTD).

Ibnu menegaskan, upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan sumber daya manusia berintegritas.

“Tanpa budaya integritas yang kokoh, penindakan saja tidak cukup,” tegasnya.

Menutup kuliah umum, Ibnu mengajak sivitas akademika menjadikan momentum Ramadhan sebagai refleksi untuk memperkuat integritas pribadi dan komitmen kebangsaan. ***

Berita Lainnya

Terkini