Indonesiagelap: Kritik Pedas untuk Pemimpin yang Dianggap Tak Peduli Rakyat Kecil

20 Februari 2025, 16:28 WIB

Yogyakarta Malioboro menjadi saksi bisu kembalinya aksi #Indonesiagelap pada Kamis, 20 Februari 2025. Massa yang menamakan diri “Jogja Memanggil” tumpah ruah di jalanan, menyuarakan tuntutan mereka.

Di antara peserta aksi, terlihat mahasiswa dan anggota berbagai forum diskusi, termasuk forum Cik Diktiro. Koordinator aksi, Mustafa, memimpin massa dari titik kumpul di parkir ABA Malioboro sekitar pukul 09.00 WIB hingga berakhir di Titik Nol Kilometer.

Pukul 09.00 WIB, parkir Abu Bakar Ali (ABA) Malioboro mulai dipenuhi massa berpakaian hitam-hitam dengan pita kuning. Mereka adalah peserta aksi #Indonesiagelap yang siap bergerak menuju Titik Nol Kilometer.

indonesiagelap menggema di yogyakarta 2

Poster-poster bertuliskan “Aksi dimulai dari sini (Abu Bakar Ali) kemudian diakhiri di titik 0” menambah semangat aksi mereka. Di tengah kerumunan, koordinator aksi, Mustafa, menyampaikan ajakan kepada mahasiswa dan masyarakat untuk ikut serta dalam aksi damai ini.

Aksi #Indonesiagelap menyuarakan tuntutan yang jelas: penolakan terhadap Inpres pemangkasan anggaran pendidikan. Mustafa, koordinator aksi, dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai ke mana dana hasil pemangkasan tersebut akan digunakan.

Penolakan terhadap Inpres ini menjadi tujuan utama aksi mereka. Tak hanya itu, mereka juga menentang pemangkasan anggaran kesehatan, yang dianggap bukan sebagai prioritas utama di era pemerintahan saat ini.

WhatsApp Image 2025 02 20 at 15.45.061

Di balik aksi #Indonesiagelap, terdapat tuntutan yang lebih luas dari sekadar penolakan Inpres efisiensi anggaran.

Mustafa, koordinator aksi, mengungkapkan bahwa mahasiswa UIN Jogja juga menyuarakan tuntutan agar pemerintah lebih memperhatikan sektor pendidikan dan kesehatan. Tak hanya itu, mereka juga mendesak agar RUU perampasan aset segera disahkan.

Derian, peserta aksi lainnya, dengan lantang menyerukan agar pemerintah mengembalikan alokasi APBN untuk pendidikan ke angka ideal, yaitu 20 persen.

Derian, salah satu peserta aksi, menjelaskan bahwa #Indonesiagelap adalah sebuah istilah yang menggambarkan kondisi matinya hati nurani para pemimpin. Mereka dianggap tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat, terutama kalangan bawah.

Ia dengan tegas menyatakan bahwa para penguasa telah mengabaikan tuntutan-tuntutan dari masyarakat kecil.

Di tengah berlangsungnya aksi, beberapa anggota massa terlihat melempar cat berwarna merah ke pagar tulisan kantor DPRD DIY, sementara yang lain memasang poster-poster berisi keluhan dan tuntutan. ***

Berita Lainnya

Terkini