Inflasi Bali Januari 2026: Deflasi Musiman, Stabil dalam Target

Pada Januari 2026 Perkembangan inflasi di Bali menunjukkan tren positif dengan deflasi bulanan sebesar -0,34% (mtm)

3 Februari 2026, 19:03 WIB

Denpasar – Perkembangan inflasi Provinsi Bali pada Januari 2026 menunjukkan tren positif dengan deflasi bulanan sebesar -0,34% (mtm).

Angka ini sesuai pola musiman setelah bulan sebelumnya mencatat inflasi 0,70% (mtm).

Secara tahunan, inflasi melandai dari 2,91% (yoy) pada Desember 2025 menjadi 2,58% (yoy), tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1%, dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,55% (yoy)

Seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan. Badung mencatat deflasi terdalam -0,78% (mtm) dengan inflasi tahunan 1,09% (yoy), Singaraja mengalami deflasi -0,44% (mtm), inflasi tahunan 2,59% (yoy).

Tabanan mencatat deflasi -0,21% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,00% (yoy). Sementara Denpasar mengalami deflasi-0,13% (mtm), namun inflasi tahunan mencapai 3,60% (yoy), di atas rentang sasaran inflasi sehingga perlu diwaspadai.

Deflasi terutama disumbang oleh penurunan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, bensin, dan daging ayam ras.

Sementara itu, kenaikan tarif parkir, sewa rumah, emas perhiasan, ikan tongkol diawetkan, dan kangkung menahan deflasi lebih dalam.

Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode long weekend dan HBKN Ramadhan, kenaikan harga emas dunia

Selain itu juga,puncak musim hujan yang berpotensi menekan produksi pertanian, distribusi, dan perikanan.

Tambahan permintaan pangan juga diperkirakan meningkat seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan pentingnya sinergi dalam menjaga stabilitas harga.

Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali terus memperkuat koordinasi melalui tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi.

“Strategi ini diwujudkan melalui operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran), kerja sama antar daerah, serta penguatan ekosistem pangan hulu-hilir yang melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi,”* ujarnya.

Dengan langkah strategis tersebut, inflasi Bali tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1%. ***

Berita Lainnya

Terkini