Jangan Asal Lari! Dokter Ortopedi UMY Ingatkan Bahaya Overtraining bagi Pelari Pemula

dr. Ariffudin dari UMY menegaskan fondasi terpenting dalam memulai lari adalah mentalitas dan perencanaan yang realistis.

7 Januari 2026, 18:05 WIB

Yogyakarta – Memasuki awal tahun 2026, semangat masyarakat untuk menjalani resolusi hidup sehat melalui olahraga lari kian membara. Namun, di balik tren yang tengah naik daun ini, tersimpan risiko cedera serius jika tidak dilakukan dengan perhitungan yang matang.

Dokter Spesialis Ortopedi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Muhammad Ariffudin, Sp.OT, memberikan peringatan keras bagi para pelari pemula agar tidak terjebak dalam ambisi sesaat yang justru bisa merusak tubuh.

Banyak pemula mengira perlengkapan mewah adalah kunci utama. Namun, dr. Ariffudin menegaskan fondasi terpenting dalam memulai lari adalah mentalitas dan perencanaan yang realistis.

“Yang paling penting itu bukan sepatu merek apa, tetapi bagaimana kita membuat rencana yang masuk akal dan bisa ditepati. Jangan langsung memasang target drastis seperti turun lima kilogram dalam sebulan, karena itu justru memicu stres dan kekecewaan,” ungkapnya pada Rabu (7/1).

Untuk menghindari cedera otot dan sendi, ia menyarankan penerapan prinsip “Start Low, Go Slow”. Artinya, mulailah dari intensitas yang paling ringan dan tingkatkan secara bertahap seiring dengan adaptasi tubuh.

Menurut dr. Ariffudin, olahraga yang benar harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat, bukan sekadar asal berkeringat. Ia merinci tahapan ideal yang sering dilupakan pemula:

Stretching: Menyiapkan fleksibilitas otot dan sendi.

Pemanasan (Warm-up): Mempersiapkan ritme jantung.

Latihan Inti: Melakukan aktivitas lari sesuai porsi.

Pendinginan (Cooling Down): Mengembalikan kondisi tubuh secara perlahan.

Salah satu kesalahan fatal yang sering ditemui adalah memaksakan jarak tempuh tanpa memberi waktu bagi tubuh untuk pulih. Fenomena overtraining ini menjadi musuh utama bagi mereka yang terlalu bersemangat di awal.

“Baru sekali lari lima kilometer, besoknya langsung ingin 20 kilometer. Itu bukan membangun kesehatan, justru merusak tubuh,” tegas dr. Ariffudin.

Ia berpesan, baik bagi mahasiswa maupun pekerja kantoran, agar tidak hanya mengikuti tren atau gaya hidup semata. Tujuan utama olahraga adalah investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar gengsi atau prestasi sesaat.

Berita Lainnya

Terkini