Singasana – Penataan kawasan Jalan Gajah Mada di Kabupaten Tabanan tidak sekadar menghadirkan wajah kota yang lebih tertata dan estetis, melainkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat identitas, meneguhkan kebanggaan, serta merefleksikan perjalanan sejarah daerah.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tabanan, Ir. Gde Made Partana, S.T., M.Si., menjelaskan keberadaan tulisan “Kota Tabanan” yang masih ditampilkan di kawasan tersebut sempat menjadi perhatian dan memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Hal ini berkaitan dengan penggunaan nama “Singasana” sebagai identitas pusat pemerintahan Kabupaten Tabanan saat ini.
“Identitas suatu daerah tidak hanya terbentuk dari penamaan administratif semata, tetapi juga tumbuh melalui sejarah, perkembangan wilayah, nilai-nilai budaya, serta ingatan kolektif masyarakatnya,” ujar Ir. Gde Made Partana saat dikonfirmasi, Senin (26/10).
Melalui proyek penataan Jalan Gajah Mada, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Tabanan menghadirkan lima segmen tulisan, yakni AMAN UNGGUL MADANI, TABANAN ERA BARU, JAYANING SINGASANA, KOTA SINGASANA, dan KOTA TABANAN. Ragam tulisan ini sengaja ditampilkan sebagai representasi identitas daerah yang mencerminkan semangat pembangunan, karakter, dan perjalanan Tabanan dari masa ke masa.
Menurut Partana, “Kota Singasana” merepresentasikan identitas yang melekat pada pusat pemerintahan saat ini. Di sisi lain, “Kota Tabanan” tetap menjadi bagian dari identitas historis dan perjalanan perkembangan daerah yang memiliki nilai tersendiri dalam memori kolektif masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kedua identitas tersebut tidak perlu ditempatkan dalam posisi yang saling berhadapan. Sebaliknya, pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai identitas ini dapat memperkaya perspektif masyarakat mengenai sejarah dan karakter Kabupaten Tabanan.
Penataan ruang publik memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar aspek estetika. Ruang publik berfungsi sebagai media komunikasi visual yang menyampaikan pesan tentang jati diri daerah.
”Semangat pembangunan, serta nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang,” tambah Partana.
Pihaknya menilai merawat identitas masa lalu sekaligus memperkuat identitas masa kini merupakan esensi penting dalam membangun daerah yang berkarakter. Kemajuan suatu daerah tidak mengharuskannya meninggalkan sejarah, melainkan menjadikannya pijakan kuat dalam menatap masa depan.
Dengan hadirnya beragam tulisan di ruang publik tersebut, Dinas PUPR Tabanan berharap dapat memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap daerahnya, sekaligus menumbuhkan pemahaman bahwa identitas Tabanan terbentuk melalui perjalanan panjang yang terus berkembang.
Berbeda tulisan, satu kebanggaan. Beragam identitas, satu Tabanan. ***

