Kemenekraf Janjikan ‘Bioskop Merata’ di 15 Provinsi Demi Akses Film Nasional’

Direktur JAFF, Ifa Isfansyah, menekankan urgensi pengarsipan film sebagai kekayaan budaya yang rentan rusak dan terancam hilang.

2 Desember 2025, 06:57 WIB

Yogyakarta – Direktur JAFF, Ifa Isfansyah, menyinggung tantangan besar dalam menjaga sejarah perfilman Indonesia.
Ia menekankan urgensi pengarsipan film sebagai kekayaan budaya yang rentan rusak dan terancam hilang.

Hal itu disampaikannya saat pembukaan Ajang prestisius perfilman Asia, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-26, di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta pada Jumat (29/11/2025).

Pembukaan festival tiga hari ini dihadiri tokoh penting seperti Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Fadli Zon, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, serta ratusan pegiat film dan seniman dari seluruh Asia.

Perhelatan JAFF kali ini langsung menyoroti dua isu vital: pelestarian warisan sinema dan pemerataan akses menonton.

Dalam sambutannya, Direktur JAFF, Ifa Isfansyah, menyinggung tantangan besar dalam menjaga sejarah perfilman Indonesia.
Ia menekankan urgensi pengarsipan film sebagai kekayaan budaya yang rentan rusak dan terancam hilang.

Merespons isu akses dan distribusi, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melontarkan kabar gembira yang menggugah.

Direktur Film, Animasi, dan Video Kemenekraf, Doni Setiawan, menyatakan komitmen pemerintah untuk mendorong pembangunan bioskop di 15 provinsi prioritas yang selama ini belum memiliki fasilitas memadai.

“Kami mendorong agar daerah-daerah yang belum punya tontonan bioskop ini punya bioskop, banyak produksi film kita akhirnya belum sampai ke bioskop,” ujar Doni usai pembukaan JAFF.

Ia menegaskan, kehadiran bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan motor penggerak ekonomi, pembuka lapangan kerja, dan kontributor signifikan terhadap PDB Indonesia.

“Makin banyak orang yang nonton dan diapresiasi, makin banyak juga manfaat ekonomi yang dihasilkan,” — Doni Setiawan.

Selain fokus pada infrastruktur, Kemenekraf juga melihat potensi besar pada pengembangan festival film daerah. Doni Setiawan mencatat antusiasme perwakilan daerah di JAFF yang ingin menggelar acara serupa.

“Kita perlu dorong agar festival-festival tidak hanya festival, tapi juga menjadi market film bagi film-film daerah agar bisa berkompetisi dan mendapat investor,” tutupnya. ***

Berita Lainnya

Terkini