Yogyakarta – Harapan baru bagi layanan kesehatan di Sumatera mulai benderang. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi menargetkan pemulihan total (recovery total) seluruh fasilitas kesehatan yang lumpuh akibat bencana banjir bandang di Sumatera akan rampung pada Maret 2026.
Langkah besar ini diperkuat dengan alokasi anggaran sebesar Rp500 miliar untuk mengganti alat-alat medis yang rusak parah.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan komitmen pemerintah dalam memastikan warga terdampak tidak lagi kesulitan mengakses layanan medis.
Hal ini disampaikannya usai menghadiri peletakan batu pertama Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Mengingat kembali dahsyatnya bencana tersebut, Menkes Budi memaparkan betapa kritisnya kondisi di lapangan saat awal kejadian.
Sebanyak 87 rumah sakit di tiga provinsi terdampak hebat, bahkan sembilan di antaranya sempat tutup total karena terendam lumpur setinggi badan.
“Begitu bencana menghantam, layanan langsung berhenti. Tim kami bergerak cepat dalam tiga hingga empat hari untuk meninjau lokasi. Kami melihat rumah sakit yang benar-benar mati suri karena air dan lumpur masuk ke setiap sudut ruangan,” kenang Menkes Budi.
Tak hanya rumah sakit, lini pertahanan pertama yakni Puskesmas pun porak-poranda.
Dari 1.268 Puskesmas yang ada, sebanyak 850 unit sempat berhenti beroperasi. Bahkan, 150 di antaranya mengalami kerusakan struktural yang berat hingga roboh.
Pemerintah telah menjalankan strategi pemulihan sistematis untuk menghidupkan kembali denyut nadi kesehatan di Sumatera:
Tahap I (Penyelamatan RS): Fokus pada pembersihan darurat. Hanya dalam dua minggu (per 14 Desember), sembilan rumah sakit yang sebelumnya tutup total sudah berhasil dibuka kembali untuk melayani IGD dan pasien darurat.
Tahap II (Aktivasi Puskesmas): Percepatan dilakukan sepanjang Desember. Hasilnya luar biasa, dari 850 Puskesmas yang terdampak, kini hanya tersisa empat unit yang masih dalam proses perbaikan berat.
Tahap III (Recovery Total): Fase yang sedang berjalan hingga Maret 2026. Fokusnya adalah mengembalikan fungsi layanan 100%, termasuk penggantian infrastruktur pendukung yang hancur.
Di balik layar pemulihan ini, ada kekuatan solidaritas yang luar biasa. Sebanyak 4.100 relawan kesehatan dari berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, UGM, hingga lembaga internasional seperti Doctors Without Borders dan Palang Merah Internasional, bahu-membahu melayani 300 ribu pengungsi di 1.000 titik posko.
Dari sisi infrastruktur, Kemenkes menggandeng raksasa otomotif seperti Astra, Toyota, hingga Isuzu untuk menjemput bola memperbaiki 205 ambulans yang rusak.
“Sekitar 50 unit sudah selesai diperbaiki, dan 80 unit lainnya sedang berada di bengkel,” tambahnya.
Banjir dan lumpur menyisakan kerusakan permanen pada alat-alat canggih. Menkes menyebut ribuan komputer, tempat tidur pasien, hingga alat diagnostik seperti Siemens tidak lagi bisa digunakan.
“Kita sudah hitung kebutuhannya sekitar Rp500 miliar. Anggaran ini telah diajukan agar alat-alat kesehatan, kursi gigi, hingga kebutuhan mebel yang hancur bisa segera diganti dengan yang baru,” tegas Budi.
Langkah ini bukan sekadar memperbaiki gedung yang rusak, melainkan upaya mengembalikan hak masyarakat Sumatera untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan bermartabat setelah dihantam bencana.***

