Danurejan – Menjelang perayaan Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026, suasana di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, mendadak harum. Aroma manis yang legit mengepul dari sebuah dapur sederhana milik keluarga Sianywati.
Di sinilah, tradisi tahunan pembuatan kue keranjang tetap terjaga, melintasi zaman sebagai simbol doa dan kebersamaan.
Sianywati merupakan generasi kedua yang setia meneruskan estafet kuliner ini. Tak main-main, usaha ini ternyata sudah dirintis jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
“Ini sudah dari zaman nenek saya, jauh sebelum merdeka. Sekarang saya yang meneruskan,” ungkap Sianywati saat ditemui pada Rabu (4/2/2026).
Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang bukan sekadar kudapan pendamping teh. Teksturnya yang lengket berasal dari bahan utama tepung ketan, yang secara filosofis dimaknai sebagai “perekat” hubungan antaranggota keluarga agar tetap rukun dan harmonis.
“Ketan itu kan lengket, maknanya supaya keluarga tetap ‘lengket’. Rasanya yang manis adalah doa agar hidup, karier, hingga rezeki yang memakannya juga berbuah manis,” jelas Sianywati dengan ramah.
Menariknya, nama “Kue Keranjang” sendiri lahir dari sejarah penggunaannya. Dahulu, kue ini dicetak menggunakan keranjang kecil beralaskan daun pisang.
Meski kini daun pisang sulit didapat dan digantikan kertas kaca, esensi dan sebutannya tetap melekat di hati masyarakat.
Rahasia Sembilan Jam di Atas Api Minyak Tanah
Di tengah gempuran teknologi dapur modern, Sianywati memilih jalan sunyi dengan mempertahankan cara tradisional. Proses pembuatannya butuh kesabaran ekstra:
Pengolahan: Beras ketan dicuci, digiling, dan diayak hingga halus sempurna.
Fermentasi: Adonan yang telah dicampur larutan gula didiamkan selama satu hari.
Pengukusan: Ini kuncinya. Adonan dikukus selama sembilan jam nonstop.
Uniknya, ia tetap setia menggunakan kompor minyak tanah. Menurutnya, api dari minyak tanah menghasilkan panas yang lebih merata, membuat tekstur kue menjadi jauh lebih legit dibandingkan metode modern.
“Ini cara kami melestarikan resep nenek. Rasanya beda, ada khasnya tersendiri,” tuturnya.
Kue keranjang produksi Tukangan ini dibanderol seharga Rp55.000 per buah, tersedia dalam ukuran setengah hingga satu kilogram. Tanpa bahan pengawet, kue ini hebatnya bisa bertahan hingga satu tahun jika disimpan di lemari pendingin.
Meski mampu memproduksi hingga 200 kilogram per hari, Sianywati tidak ingin terburu-buru mengejar kuantitas dengan mengubah resep. Baginya, mempertahankan rasa asli adalah penghormatan bagi leluhur.
Pelanggan setianya pun sudah mengantre sejak jauh hari demi mendapatkan cita rasa autentik ini.
Di luar musim Imlek, dapur Sianywati tetap mengepul dengan produksi bakcang. Namun, momen menjelang Imlek 2026 ini terasa lebih spesial.
“Harapan saya cuma sehat. Kalau sehat, saya bisa terus melanjutkan warisan nenek ini sampai kapan pun,” pungkasnya menutup perbincangan. ***

