Memimpin di Ambang Zaman Keraguan: Menggeser Takhta Kekuasaan Menjadi Kerja Kesadaran

Pemerhati sosial alumnus UGM Iwan Gunawan, menawarkan refleksi mendalam: bahwa krisis kepemimpinan saat ini bukanlah kurangnya aktivitas, melainkan hilangnya "pusat batin" dalam kekuasaan

11 Januari 2026, 10:08 WIB

Jakarta – Kita tengah berada dalam sebuah lanskap yang tidak lagi datar. Bencana ekologis, disrupsi teknologi, hingga kelelahan sosial telah menyeret publik ke dalam apa yang disebut sebagai “zaman keraguan”.

Di tengah situasi ini, pemerhati soaial alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Gunawan, menawarkan sebuah refleksi mendalam: bahwa krisis kepemimpinan saat ini bukanlah tentang kurangnya aktivitas, melainkan hilangnya “pusat batin” dalam kekuasaan.

Menurut Iwan, fenomena yang paling umum dijumpai saat ini adalah pemimpin yang tampak sangat sibuk namun terasa limbung. Banyak pernyataan dibuat, namun sedikit yang menenangkan. Banyak keputusan diambil, namun jarang yang benar-benar menata.

“Kekuasaan seringkali bekerja hanya sebagai alat meredam ancaman. Kritik dibaca sebagai serangan, dan stabilitas dicari melalui akomodasi kepentingan, bukan penataan nilai,” ujarnya. Dalam fase ini, energi pemimpin habis terkuras hanya untuk mengelola citra dan persepsi publik. Dampaknya, organisasi atau negara menjadi “gemuk” secara struktur, namun rapuh secara etis.

Iwan menekankan perubahan signifikan baru akan terjadi ketika seorang pemimpin mampu bergeser dari “refleks” menuju “mandat”. Pada tahap ini, kepercayaan publik tidak lagi dianggap sebagai modal politik untuk memenangkan suara, melainkan modal eksistensial untuk menentukan arah bangsa.

Bahasa kepemimpinan pun berubah. Bukan lagi soal menyenangkan semua pihak melalui akomodasi yang luas, melainkan keberanian untuk membatasi dan memilah mana kepentingan yang selaras dengan nilai kebajikan.

Inilah pintu masuk di mana kepemimpinan mulai dipahami sebagai sebuah amanah, bukan sekadar alat bertahan hidup.

Kedalaman kepemimpinan diuji ketika ia mampu melampaui seruan moral dan mulai membangun sistem yang berintegritas. Iwan menjelaskan bahwa pemimpin yang sadar tidak akan berhenti pada pertanyaan “siapa yang salah”, melainkan membongkar “mengapa kesalahan itu mungkin terjadi”.

“Etika tidak boleh hanya menjadi slogan, ia harus menjelma menjadi tata kelola. Disiplin tidak boleh hanya bertumpu pada watak individu, tapi harus ditopang oleh mekanisme,” tegasnya.

Ketika sistem telah terbentuk, wacana publik akan bergeser secara sehat: dari sekadar membicarakan figur menjadi membicarakan institusi; dari gosip skandal menuju perbaikan tata kelola.

Pada level terdalam, kepemimpinan tidak lagi bersumber dari jabatan, melainkan dari kualitas keberadaan sang pemimpin itu sendiri. Iwan menyebutnya sebagai “Kepemimpinan Kesadaran”. Di titik ini, integritas tidak lagi dipaksakan karena ia telah hadir secara alami.

Publik dapat mengenali fase ini melalui suasana yang lebih tenang—menurunnya drama politik, meningkatnya kejernihan informasi, dan tumbuhnya rasa memiliki di tengah masyarakat. Keputusan yang diambil tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga memihak pada keberlangsungan kehidupan.

Sebagai penutup, Iwan Gunawan mengajak masyarakat untuk mengevaluasi kembali cara mereka memilih dan menilai pemimpin di zaman keraguan ini.

Kesalahan terbesar publik seringkali adalah terpaku pada retorika dan popularitas singkat.

“Kita harus mulai bertanya: dari kesadaran mana tindakan pemimpin itu berasal? Apakah yang memimpin adalah ketakutan dan ego, atau kejernihan dan kepedulian?” pungkasnya.

Sebab, pada akhirnya, mutu suatu peradaban tidak akan pernah melampaui mutu kesadaran mereka yang memimpinnya.***

Berita Lainnya

Terkini