Mendikdasmen Abdul Mu’ti: AI Tak Akan Gantikan Peran Guru

kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan tidak akan pernah menggantikan peran manusia.

24 Januari 2026, 16:46 WIB

Yogyakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan tidak akan pernah menggantikan peran manusia.

Menurutnya, guru dan tenaga pendidik tetap menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran, sementara AI hanya berfungsi sebagai alat pendukung.

AI memang semakin populer, tapi manusia tetap menjadi ‘raja’ pendidikan. AI hanyalah alat yang membantu, bukan pengganti guru atau tenaga pendidik lainnya,” ujar Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan AI membawa peluang sekaligus tantangan. Berdasarkan kajian akademik dan laporan internasional, termasuk dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), AI berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan.

Namun, bagi mereka yang mampu menguasainya, teknologi ini justru memperkuat kapasitas manusia.

“Yang terdampak adalah yang tidak menguasai. Namun, yang menguasai, mereka menjadi sangat dikdaya. AI bisa memproses informasi luar biasa cepat, tapi tetap kontrolnya ada pada manusia,” tegasnya.

Abdul Mu’ti menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan teknologi dengan pendidikan karakter dan etika.

Menurutnya, AI mampu memberikan rekomendasi dan analisis data, tetapi tidak memiliki kedalaman berpikir kritis serta moralitas seperti manusia.

Diontohkan penggunaan ChatGPT yang bisa menyusun pidato dengan cepat, namun tidak memahami konteks sosial dan nuansa budaya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga mengungkapkan pemerintah telah memasukkan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, mulai dari kelas V SD.

“Kami mulai dengan pilihan, karena guru harus dilatih terlebih dahulu. Setelah mereka siap, baru mata pelajaran ini bisa menjadi wajib,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menambahkan  pendekatan pendidikan yang dikembangkan saat ini adalah pembelajaran mendalam atau deep learning, yang memadukan aspek psikologi, neuroscience, dan teknologi. Pendekatan ini tidak hanya menekankan kemampuan kognitif, tetapi juga nilai, karakter, dan kemampuan metakognitif siswa.

Selain itu, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya kompetensi digital (*digital competence*) dan kesantunan digital (*digital civility*) dalam menghadapi era AI.

Ia mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan teknologi, tidak menyebarkan informasi yang keliru, serta tetap menjaga etika di ruang digital.

AI dapat membantu mengatasi kesenjangan pendidikan, misalnya dalam pembelajaran jarak jauh di daerah terpencil. Namun, etika, budaya, dan karakter tetap harus melekat dalam setiap pembelajaran,” ujarnya.

Sebagai landasan pendidikan di era AI, Abdul Mu’ti memaparkan prinsip 3A: Alam, Akal, dan Akses. Alam sebagai modal sumber daya, Akal sebagai kemampuan berpikir dan memahami, serta Akses untuk membuka peluang belajar lebih luas.

“Kalau ketiga hal ini sinergi, insyaAllah AI akan berkontribusi penting untuk mewujudkan pendidikan bermutu di Indonesia,” pungkasnya. **

Berita Lainnya

Terkini