Mengapa Kanker Kian Akrab dengan Generasi Z Indonesia?

Kanker yang identik penyakit orang tua, kini menyerang di bawah 40 tahun, oleh Tulus Abadi, Ketua FKBI disebut fenomena sosiologis mengerikan.

4 Februari 2026, 08:17 WIB

Di balik gemerlap gaya hidup instan dan tren kuliner kekinian, sebuah ancaman senyap sedang mengintai masa depan Indonesia. Kanker, yang dulu identik dengan penyakit orang tua, kini mulai “salah alamat” dan menyerang mereka yang masih berusia di bawah 40 tahun.

Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), menyebut situasi ini sebagai fenomena sosiologis yang mengerikan. Peringatan Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari bukan lagi sekadar seremoni, melainkan alarm darurat bagi bangsa yang sedang bermimpi menikmati bonus demografi.

Data berbicara lebih keras dari sekadar kata-kata. Dengan tingkat kematian pasien kanker yang menembus angka 59,24%, Indonesia sedang menghadapi krisis kesehatan serius. Berdasarkan catatan Globocan dan Kemenkes, lebih dari 242 ribu nyawa melayang akibat kanker dalam setahun.

Yang paling memprihatinkan adalah kanker paru. Di Indonesia, pria didiagnosa menderita kanker paru rata-rata pada usia 58 tahun—sepuluh tahun lebih awal dibanding rata-rata pasien global. Musababnya? “Dua dari tiga laki-laki dewasa kita adalah perokok aktif,” ungkap Tulus dengan nada getir.

Mengapa prevalensi kanker terus meroket? Jawabannya ada pada meja makan dan kantong saku kita:

Pola Konsumsi Berbahaya: Kegemaran generasi muda pada minuman manis (MBDK) dan makanan ultra-proses seperti sosis dan nugget menjadi pemicu utama.

Budaya Malas Gerak: Survei menyebut orang Indonesia termasuk yang paling enggan berjalan kaki di dunia.

Faktor Risiko Terbesar: Rokok tetap menjadi juara dengan kontribusi risiko sebesar 35,5%, disusul diet tidak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik.

Tanpa langkah radikal, kasus kanker di tanah air diprediksi akan melonjak hingga 70 persen pada tahun 2050.
Regulasi yang “Menggantang Asap”

Namun, di tengah kepungan risiko ini, sikap pemerintah justru dinilai ambigu. Tulus Abadi menyoroti bagaimana aturan perlindungan kesehatan masyarakat seolah “masuk angin” menghadapi kepentingan industri.

Hingga Januari 2026, janji pemerintah untuk mengendalikan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) melalui Rapermenkes masih belum menemui titik terang. Setali tiga uang, rencana cukai minuman manis pun terus menguap, sementara aturan ketat mengenai iklan dan penjualan rokok “ketengan” masih mangkrak di meja birokrasi.

“Pemerintah seolah lebih memilih menjaga kepentingan oligarki ekonomi daripada menjaga paru-paru dan jantung rakyatnya,” tulisnya dalam refleksi tersebut.

Saat negara dianggap tak bergeming, Tulus mengajak masyarakat untuk mengambil kendali atas hidup mereka sendiri. Mengandalkan perlindungan negara saat ini dianggap bak “menggantang asap”—sia-sia.

Langkah preventif secara mandiri, mulai dari membatasi konsumsi makanan olahan, aktif berolahraga, hingga menjauhi rokok, kini bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan hidup. Hari Kanker Sedunia harus menjadi momentum untuk berhenti menjadi konsumen yang pasrah dan mulai menjadi masyarakat yang berdaya. ***

Berita Lainnya

Terkini