Yogyakarta– Gedung Social Militaire, Taman Budaya Yogyakarta, menjadi saksi bisu transformasi isu kebijakan publik menjadi karya seni yang memukau.
Pada Rabu (21/1/2026), mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta resmi menggelar Galaksi (Gala Aksi Karya Mahasiswa Komunikasi) Volume 5.
Bukan sekadar pameran biasa, ajang tahunan yang menjadi puncak Ujian Akhir Semester ini mengusung tajuk berani: “Gastronomi”, sebuah eksplorasi artistik terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Panitia Galaksi Vol. 5, Ilyas Abdurrahman, menjelaskan pemilihan istilah “Gastronomi” bukan tanpa alasan. Secara filosofis, gastronomi adalah seni mengolah bahan sederhana menjadi sajian mewah.
Hal ini dipandang relevan dengan upaya pemerintah dalam mengemas program gizi nasional.
Namun, di balik keindahan visual yang ditampilkan, terselip pesan kritis dari para intelektual muda.
“Kami tidak hanya melihat dari satu sisi. Teman-teman memotret realitas luas, mulai dari isu PHK, risiko keracunan, hingga dampak efisiensi anggaran. Sebagai mahasiswa, kami punya tanggung jawab untuk mengkritisi program pemerintah melalui karya kreatif,” tegas Ilyas.
Pameran ini menyuguhkan pengalaman sensorik yang lengkap bagi para pengunjung melalui tiga pilar utama:
Visual Storytelling: Sebanyak 16 kelompok mahasiswa angkatan 2025 membuka acara dengan pameran fotografi yang menyoroti estetika sekaligus esensi makanan bergizi.
Kedalaman Jurnalistik: Peluncuran Com.23 Magazine karya angkatan 2023 membedah sisi gelap dan terang program MBG—mulai dari nasib kantin sekolah yang tergerus hingga tantangan pengelolaan sampah makanan.
Eksplorasi Sinematik: Sebagai puncak acara, sembilan film pendek karya angkatan 2024 diputar.
Mahasiswa berhasil membungkus isu kebijakan publik ke dalam berbagai genre, mulai dari drama yang menyentuh hati hingga horor dan komedi yang segar.
Keberanian mahasiswa dalam bersuara mendapat apresiasi tinggi dari akademisi. Dekan FEISHum Unisa Yogyakarta, Annisa Warastri, menyebut acara ini sebagai bentuk kontribusi nyata ilmu komunikasi dalam memberikan kritik membangun bagi bangsa.
Dukungan serupa datang dari dosen pembimbing, Dias Reginan Pinkan, serta para pengunjung.
“Topik MBG ini sangat relevan dan hangat. Melihatnya dari sudut pandang mahasiswa lewat karya seni adalah pengalaman yang luar biasa,” ujar Al Fattah, salah satu pengunjung pameran.
Galaksi Vol. 5 membuktikan, tugas akhir kuliah tidak harus berakhir di tumpukan kertas, melainkan bisa menjadi pemantik diskusi publik yang bermakna dan menggugah kesadaran masyarakat. ***

