Menolak Kemapanan Visual: Made Romi Sukadana Rayakan Gejolak Kreatif dalam ‘Divergent Mind’

Pameran tunggal bertajuk "Divergent Mind" karya I Made Romi Sukadana di Santrian Art Gallery Sanur hadir untuk menggugat kemapanan

10 Januari 2026, 08:48 WIB

Denpasar– Dalam dunia seni rupa, seorang seniman sering kali dituntut untuk memiliki “merek” visual yang stabil agar dianggap matang. Namun, pameran tunggal bertajuk “Divergent Mind” karya I Made Romi Sukadana hadir untuk menggugat kemapanan tersebut.

Alih-alih menyuguhkan linieritas gaya, pameran ini justru merayakan perubahan, lompatan ide, dan ketidakpastian sebagai identitas utama sang seniman.

Selama ini, diskursus seni rupa cenderung mengklasifikasikan seniman berdasarkan periodisasi yang rapi. Namun, kurasi dalam Divergent Mind mencoba membaca identitas dari sudut pandang yang berbeda. Identitas tidak lagi dipandang sebagai gaya yang ajeg atau beku, melainkan sebuah ekosistem pikiran yang otonom dan dinamis.

Romi Sukadana memposisikan proses kreatifnya dalam kerangka divergent thinking. Konsep yang pertama kali diperkenalkan psikolog J.P. Guilford pada 1950 ini menekankan pada kemampuan menghasilkan banyak kemungkinan solusi dan menolak satu jawaban tunggal.

Bagi Romi, melukis adalah pengalaman tubuh dan kesadaran yang larut dalam kondisi flow—sebuah ruang di mana intuisi lebih berkuasa daripada rencana rasional yang kaku.

Menariknya, karya-karya Romi tidak bisa dibaca dengan pola kronologis yang lazim ditemukan dalam historiografi seni modern. Ia bergerak melompat dari satu pendekatan visual ke pendekatan lainnya.

Jika meminjam perspektif sosiolog Pierre Bourdieu, Romi tampak sedang menegosiasikan posisinya di medan seni dengan menolak “habitus” konsistensi gaya demi legitimasi pasar atau publik.

“Perbedaan gaya dalam karya-karyanya tidak mudah dibaca sebagai fase-fase kronologis yang rapi,” tulis catatan pameran tersebut.

Bagi Romi, setiap kanvas adalah negosiasi baru terhadap diri sendiri, bukan sekadar pengulangan formula yang telah mapan.

Identitas yang Terus “Menjadi”
Perubahan tematik yang drastis dalam karya Romi mungkin akan disalahpahami sebagai ketiadaan karakter.

Namun, mengutip pemikiran Stuart Hall, identitas seniman dalam pameran ini dipahami sebagai sesuatu yang tidak tetap, melainkan terus “menjadi” melalui proses representasi.

Melukis bagi Romi adalah:

Medan Uji: Ruang untuk menguji ide-ide baru yang liar.

Modus Berpikir: Rekaman spesifik dari dialog antara intuisi, ingatan visual, dan respons sosial.

Arena Eksperimentasi: Ruang reflektif yang tidak pernah selesai.

Melalui Divergent Mind, pengunjung diajak untuk menggeser cara pandang mereka dalam menikmati seni. Alih-alih mencari “ciri khas” yang seragam, publik diajak merayakan kontradiksi dan ketegangan antar karya sebagai manifestasi kebebasan berpikir yang disengaja.

Pameran ini menjadi pernyataan sikap estetik dari I Made Romi Sukadana bahwa dalam seni rupa, keberanian untuk menyimpang. bukanlah sebuah kelemahan.

Sebaliknya, hal itu adalah sumber vitalitas kreatif yang menjaga api pencarian tetap menyala. Di tangan Romi, melukis dan berpikir menyatu menjadi sebuah perjalanan tanpa titik henti. ***

Berita Lainnya

Terkini