Ngonthel Bareng “Ambal Warsa Kaping 2” BIMA Ambulu, Merawat Guyub Rukun di Jalanan Ambulu.

12 Januari 2026, 10:45 WIB

Jember -Minggu pagi,Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, berubah menjadi ruang temu yang hidup. Lapangan Tegalsari dipadati ratusan pesepeda tua yang datang dari berbagai penjuru daerah untuk mengikuti Ngonthel Bareng “Ambal Warsa Kaping 2”, penanda dua tahun perjalanan Komunitas Sepeda Tua BIMA 11/01/2026.

Sekitar 650 ontelis ambil bagian dalam kegiatan ini, menjadikannya bukan sekadar perayaan ulang tahun komunitas, tetapi juga ajang silaturahmi lintas wilayah yang sarat nuansa kekeluargaan. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Wakil Ketua KOSTI Jawa Timur Ir. Ari Bayasi, Ketua KOSTI Jember Izzam Zawawi, Kepala Desa Tegalsari Tri Astuti Handayani, serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Dalam sambutan pembuka, Kepala Desa Tegalsari Tri Astuti Handayani menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada desanya sebagai lokasi peringatan ulang tahun Komunitas Sepeda Tua BIMA, untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

“Atas nama Pemerintah Desa dan masyarakat Tegalsari, kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan ini. Tahun lalu perayaan digelar di rumah tua, dan tahun ini kembali dilaksanakan di ikon desa kami, Lapangan Tegalsari,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa lapangan tersebut merupakan fasilitas milik bersama yang perlu dijaga dan dirawat. Karena itu, ia mempersilakan seluruh peserta memanfaatkan area kegiatan dengan tetap menjaga kebersihan dan ketertiban. Di akhir sambutan, doa pun dipanjatkan agar Komunitas Sepeda Tua BIMA semakin solid, guyub, dan seluruh anggotanya senantiasa diberi kesehatan lahir dan batin.

Sebagai rangkaian simbolis peringatan ulang tahun ke-2, Kepala Desa Tegalsari melepas balon ke udara, disambut tepuk tangan meriah para peserta.

Sambutan berikutnya disampaikan Wakil Ketua KOSTI Jawa Timur, Ir. Ari Bayasi, yang hadir mewakili Ketua KOSTI Jawa Timur. Dengan singkat dan lugas, ia menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Komunitas Sepeda Tua BIMA Ambulu.

“Semoga ke depan tetap guyub, rukun, dan selamat di perjalanan,” ujarnya, sebelum secara resmi melepas rombongan peserta di garis start.

Para ontelis kemudian bergerak menyusuri rute sepanjang 15,5 kilometer, melintasi jalanan desa dengan panorama perkampungan, hamparan sawah, serta kebun yang membentang asri. Rute ini menghadirkan pengalaman bersepeda yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga memanjakan mata dengan lanskap khas pedesaan Ambulu.

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan suguhan hiburan orkes dangdut dan pembagian berbagai hadiah hiburan, yang menambah semangat sekaligus mencairkan suasana kebersamaan di antara peserta.

Antusiasme peserta tergambar dari kesan yang disampaikan Sastro Sumitro, atau yang akrab disapa Adi, peserta asal Kebumen, Jawa Tengah. Ia mengaku kerap mengikuti agenda ngonthel bareng di Jember, namun perayaan Ambal Warsa Kaping 2 ini meninggalkan kesan tersendiri.

Menurut Adi, tingginya partisipasi peserta serta kesiapan panitia menjadi nilai lebih dari kegiatan ini. Penyelenggaraan dinilainya tertata rapi, namun tetap hangat dalam balutan suasana kekeluargaan khas komunitas sepeda ontel.

“Event-nya terasa spesial. Pesertanya antusias, panitianya juga serius dan tertib,” ujarnya.

Dengan nada ringan, Adi juga menyinggung keunikan tanggal pelaksanaan yang jatuh pada 11 Januari, yang baginya mengingatkan pada lagu legendaris band GIGI berjudul 11 Januari. Hal kecil itu, menurutnya, justru membuat perayaan ini semakin berkesan dan mudah diingat.

Menutup kesannya, Adi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-2 untuk Komunitas Sepeda Tua BIMA Ambulu, sembari menggaungkan yel-yel khas ontelis, “Seduluran selawase!”

Rangkaian Ngonthel Bareng “Ambal Warsa Kaping 2” pun ditutup dengan kesan mendalam, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya bermakna bagi warga lokal, tetapi juga meninggalkan impresi positif bagi peserta dari luar daerah.

Melalui perayaan ini, Komunitas Sepeda Tua BIMA Ambulu tidak sekadar menandai usia komunitasnya, melainkan juga merawat nilai kebersamaan, melestarikan budaya sepeda ontel, serta mempererat hubungan antara komunitas dan masyarakat desa—sebuah perayaan sederhana yang berjalan perlahan, namun sarat makna.***

Berita Lainnya

Terkini