Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap kokoh di awal tahun 2026, meski dibayangi moderasi ekonomi global dan risiko fiskal di sejumlah negara utama.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, menegaskan kebijakan akomodatif bank sentral global dan terjaganya inflasi domestik menjadi penopang utama pertumbuhan.
Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan capaian fantastis. IHSG melesat 22,13% (yoy) ke level 8.646,94, dengan frekuensi rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High) sebanyak 24 kali.
Likuiditas Tinggi: Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) melonjak signifikan menjadi Rp18,07 triliun, dengan partisipasi investor ritel yang kini mendominasi hingga 50% transaksi.
Fundraising Melampaui Target: Penghimpunan dana korporasi mencapai Rp274,80 triliun, melampaui target awal sebesar Rp220 triliun.
Inklusi Masif: Jumlah investor pasar modal tumbuh 36,95% (yoy) menjadi 20,36 juta orang.
Perbankan: Kredit Investasi Tertinggi dalam 10 Tahun
Sektor perbankan menunjukkan performa intermediasi yang solid dengan permodalan yang tebal (CAR 26,05%).
Pertumbuhan Kredit: Penyaluran kredit tumbuh 7,74% (yoy) menjadi Rp8.314,48 triliun. Menariknya, Kredit Investasi melonjak 17,98%, mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir—sinyal kuat ekspansi sektor riil.
Likuiditas & Dana Murah: Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh dua digit sebesar 12,03% menjadi Rp9.899,07 triliun, dibarengi tren penurunan suku bunga kredit yang kini berada di rerata 8,97%.
Kualitas Aset: Risiko kredit tetap terkendali dengan NPL Gross di level 2,21% dan NPL Net membaik ke 0,86%.
OJK terus memperketat pengawasan dengan memblokir lebih dari 31.382 rekening terkait judi online dan memberantas 2.617 entitas keuangan ilegal sepanjang 2025.
Di sisi inovasi, OJK mulai mengefektifkan Direktorat Pengawasan Perbankan Digital pada 2026 untuk mengawal transformasi digital yang semakin masif. ***

