Yogyakarta – Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali meningkat dan menimbulkan kekhawatiran global.
Namun, menurut Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Timur Tengah dan keamanan manusia, eskalasi ini tidak serta-merta akan berujung pada Perang Dunia III.
Dalam pemaparannya di Ruang Simulasi Sidang Hubungan Internasional UMY, Senin (2/3/2026), Sidik menegaskan dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat harus dipahami secara komprehensif.
Ia menjelaskan, sejak berdiri pada 1776, Amerika berkembang dari 13 koloni di Pantai Timur menjadi kekuatan global melalui ekspansi wilayah dan keterlibatan dalam Perang Dunia I dan II.
Sejak 1945, Amerika resmi menjadi superpower, menggantikan dominasi Inggris dan Prancis, dengan pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York sebagai simbol pergeseran pusat kekuasaan dunia.
Sidik menilai kebijakan luar negeri Amerika, termasuk di era Donald Trump, dipengaruhi oleh politik domestik, kondisi ekonomi dan pertahanan, serta konteks internasional.
Slogan “Make America Great Again” disebutnya sebagai refleksi atas pandangan Amerika kehilangan sebagian kejayaannya akibat kebangkitan Tiongkok dan Rusia.
Dalam kerangka itu, Iran diposisikan sebagai aktor yang batasnya harus ditegaskan.
“Serangan atau tekanan terhadap Iran bukan sekadar respons situasional, melainkan bagian dari penegasan ulang posisi Amerika sebagai kekuatan terbesar dunia,” ujarnya.
Sidik juga menekankan posisi geografis Amerika yang relatif aman membuatnya lebih leluasa bertindak agresif dibandingkan negara-negara Eropa Barat yang menghadapi risiko terorisme dan arus pengungsi.
Menurutnya, Amerika telah menghitung semua risiko dengan cermat.
Meski ketegangan meningkat, Sidik memastikan konflik ini tidak akan memicu Perang Dunia III.
Ia menyebut dinamika tersebut lebih menyerupai “permainan catur politik” yang langkah-langkahnya sudah diperhitungkan.
Perang global berskala besar, menurutnya, hanya mungkin terjadi jika Tiongkok dan Rusia terlibat langsung dalam konfrontasi terbuka.
Dalam jangka pendek, dampak paling nyata dari eskalasi ini adalah ketidakstabilan di Teluk Persia yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi global.
“Secara geopolitik, eskalasi ini lebih merupakan fase konsolidasi hegemoni Amerika daripada awal perang dunia besar,” pungkas Sidik. ***

