Yogyakarta – Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global, dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi dan mendorong kenaikan harga minyak.
Pakar studi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rachmawan Budiarto, menegaskan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada ketahanan energi nasional, khususnya bagi negara yang masih bergantung pada impor bahan bakar minyak.
Ia menjelaskan, isu energi tidak bisa dilepaskan dari konsep trilema energi, yakni keseimbangan antara keamanan pasokan, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan.
“Dalam konteks energi kita selalu berbicara tentang tiga hal utama, yaitu keamanan pasokan, keterjangkauan harga, dan dampaknya terhadap lingkungan,” ujarnya, Senin (9/3/2025).
Menurut Rachmawan, gangguan jalur distribusi energi seperti di Selat Hormuz harus dipandang sebagai risiko serius bagi sistem energi global.
Indikasi gangguan, katanya, sudah terlihat dari pergerakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi harga dalam perencanaan anggaran negara.
Selain itu, laporan internasional menyebut ratusan kapal tanker sempat tertahan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
“Kurang lebih ada sekitar 150 sampai 200 kapal tanker yang harus berhenti dan itu sudah menunjukkan ada persoalan pada sisi ketersediaan energi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem energi Indonesia yang masih bergantung pada impor.
Diversifikasi sumber impor minyak dinilai perlu dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan, meski langkah tersebut memiliki konsekuensi terhadap biaya logistik dan waktu pengiriman.
Rachmawan juga menyoroti pentingnya peningkatan cadangan strategis energi, mengingat cadangan minyak Indonesia saat ini hanya sekitar 20 hari, jauh di bawah Jepang yang mencapai 200 hari.
Meski solusi jangka pendek diperlukan, Rachmawan menekankan penguatan ketahanan energi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi energi domestik, seperti panas bumi, bioenergi, dan energi baru terbarukan lainnya.
Ia mengingatkan, keputusan energi yang diambil saat ini akan sangat menentukan arah pembangunan energi Indonesia di masa depan.
“Kalau generasi sekarang mengambil keputusan energi yang tidak tepat, yang akan membayar dampaknya bukan kita, tetapi generasi mendatang,” pungkasnya. ***

