Perkuat Citra Wisata Berkelanjutan, Bali Dorong Transisi Peternakan Ayam Cage-Free

Transisi menuju sistem cage-free bukan sekadar tren, melainkan respons tuntutan pasar global yang kian peduli pada kesejahteraan hewan.

19 Februari 2026, 17:53 WIB

Gianyar – Upaya mendorong praktik peternakan yang lebih beretika dan berkelanjutan di Bali terus diperkuat. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Animals Don’t Speak Human (ADSH) menggelar sarasehan bagi peternak ayam petelur konvensional untuk membahas transisi menuju sistem bebas sangkar (cage-free).

Kegiatan berlangsung di RV Hotel Kutus-Kutus, Gianyar, Kamis (19/2/2026), ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peternak lokal, pemerintah daerah, asosiasi, hingga pelaku industri Hotel, Restoran, dan Kafe (HORECA).

Transisi menuju sistem cage-free bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap tuntutan pasar global yang kian peduli pada kesejahteraan hewan.

Abiel Syaputra, selaku panitia acara, menjelaskan sarasehan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis mengenai prinsip kesejahteraan hewan dan aspek hukumnya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sistem cage-free adalah peluang pasar dengan nilai tambah yang tinggi bagi peternak konvensional,” ujar Abiel.

Senada dengan hal tersebut, Wayan Kusuma Yasa dari Pullman Bali Legian Beach menambahkan bahwa sektor pariwisata Bali memiliki kebutuhan besar terhadap telur cage-free.

Menurutnya, dialog ini sangat penting untuk menghubungkan kebutuhan hotel dengan praktik produksi yang etis di tingkat peternak.
Standar Kesejahteraan dan Teknis Transisi

Dalam diskusi tersebut, para peserta dibekali materi mengenai manajemen pakan, biosekuriti, kesehatan ayam, hingga pengelolaan lingkungan kandang tanpa sekat.

Drh. Ni Ketut Aryani Parmeti dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menekankan pentingnya penerapan prinsip 5 Freedom dan 5 Domain dalam peternakan.

“Implementasi kesejahteraan hewan menjadi fondasi untuk memastikan produksi yang berkualitas tanpa mengorbankan kesejahteraan ternak itu sendiri,” jelasnya.

Menariknya, acara ini juga menghadirkan testimoni dari peternak yang telah lebih dulu beralih ke sistem cage-free.

Mereka berbagi data riil mengenai perbandingan biaya operasional, proses sertifikasi, hingga keuntungan finansial yang didapat setelah meninggalkan sistem kandang baterai konvensional.

Sebagai destinasi wisata dunia, Bali dinilai memiliki posisi strategis untuk memimpin rantai pasok telur ramah hewan.

Kolaborasi antara produsen lokal dan industri pariwisata diharapkan dapat mempercepat adopsi sistem berkelanjutan ini, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di kancah internasional. ***

Berita Lainnya

Terkini