Denpasar– Pemerintah Kota Denpasar terus berkomitmen dalam menciptakan lingkungan kota yang sehat melalui penguatan regulasi kawasan tanpa rokok dan edukasi bagi generasi muda.
Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar, Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, SE, M.Si, saat menerima audiensi dari Udayana Central dan IAKMI Bali di Kantor Walikota Denpasar, Rabu (4/3).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Udayana Central, Dr. Putu Ayu Swandewi Astuti, serta Ketua Pengda IAKMI Bali, Ni Made Dian Kurniasari, SKM., MPH, guna membahas evaluasi serta keberlanjutan program kesehatan masyarakat di Kota Denpasar.
Dalam arahannya, Sekda Eddy Mulya menekankan, pendekatan edukasi terhadap remaja terkait bahaya merokok harus mulai bergeser dari pola instruksi langsung (directive) yang bersifat melarang, menjadi pola yang lebih adaptif dan kekinian.
Pola ajakan yang terlalu mendikte saat ini sudah tidak populer di kalangan remaja dan justru berpotensi memicu resistensi.
“Kita harus masuk ke ekosistem mereka dengan bahasa yang memberikan harapan masa depan, bukan sekadar menakut-nakuti dengan gambar kanker,” ujar Eddy Mulya.
Beliau menambahkan bahwa gaya hidup remaja seringkali dipengaruhi oleh teman sebaya (peer group).
Oleh karena itu, intervensi pemerintah harus lebih cerdas, misalnya dengan memberikan apresiasi atau reward bagi organisasi siswa (OSIS) yang mampu menyelenggarakan kegiatan mandiri tanpa bergantung pada sponsor perusahaan rokok.
Terkait regulasi, Pemkot Denpasar tengah mencermati kebijakan pajak daerah dan perizinan reklame.
Sekda Eddy Mulya menegaskan meskipun terdapat potensi pendapatan daerah dari pajak rokok dan reklame, kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Pihaknya mencatat masukan dari rekan-rekan independen. Kedepannya, lebih merekomendasikan izin untuk reklame yang bersifat umum dan patuh pajak, bukan reklame rokok yang menyasar area-area sensitif anak muda.
“Lebih baik kita kehilangan potensi pendapatan dari satu sektor demi menyelamatkan kualitas generasi masa depan,” tegasnya.
Guna memperluas jangkauan program, Pemkot Denpasar berencana mengintegrasikan kampanye kesehatan ini ke dalam forum-forum kemasyarakatan yang sudah ada, seperti:
Forum Perbekel dan Lurah: Melakukan evaluasi berkala setiap tiga bulan dengan menyelipkan topik pembangunan kesehatan.
Optimalisasi Guru: Mendorong peran guru sebagai komunikator yang adaptif terhadap perubahan zaman agar pesan kesehatan tersampaikan lebih efektif kepada siswa.
Akses Media Luar Ruang: Memanfaatkan aset videotron milik Pemkot Denpasar untuk menayangkan konten edukasi secara rutin tanpa harus bergantung pada penyewaan pihak swasta.
“Kita akan mencuri kemenangan dengan mengerjakan hal-hal yang mudah terlebih dahulu agar program ini terus berjalan dan tidak berhenti pada persoalan yang berat saja,” tutup Eddy Mulya. ***

