Produksi Masker, Merdi Sihombing Gandeng UMKM dan Puluhan Tuna Daksa

6 November 2020, 23:00 WIB
WhatsApp%2BImage%2B2020 11 05%2Bat%2B16.03.54
Sampai saat ini total dihasilkan 1.279.905 buah masker yang melibatkan para pengrajin batik dan tenun di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah/ist

Jakarta – Merdi Sihombing bersyukur dan bangga masih bisa berkiprah dan bersumbangsih untuk Indonesia di tengah masa pandemi yang sangat berpengaruh bagi perekonomian dengan memproduksi masker menggandeng dan tuna daksa untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di Tanah Air.

Dalam kaitan mendorong tentang , dan Peluang Berkarya Bersama Indonesia, Merdi Sihombing mengadakan bincang santai bersama media di Jakarta, Surabaya dan Bali.

Perbincangan hangat dan menarik itu mengupas topik (Sustainable Lifestyle), Gerakan dan keterlibatannya dalam pembuatan masker untuk Indonesia bersama Kementerian Kesehatan dan
Kementerian Koperasi dan UKM. 

Jumpa pers yang dilakukan secara da-ring, Merdi menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya masih bisa berkiprah dan bersumbangsih untuk Indonesia di tengah masa pandemi yang sangat berpengaruh bagi perekonomian Indonesia.  

Masa pandemi ini membuat langkah kita semua memang melambat. Namun demikian dukungan dari Pegadaian membuat kami masih dapat melakukan community development dengan para penenun di Pulau Alor. 

“Saya juga sangat bersyukur bisa menjadi salah satu agregator yang diberi kesempatan oleh Kemenkes dan Kemenkop dan UKM untuk membuat masker bagi masyarakat Indonesia,” kata Merdi yang juga founder dari Eco Fashion
Indonesia, dalam keterangannya, Jumat (6/11/2020) 

Pembuatan masker dengan total 27 juta tersebut, dipesan oleh Kementerian Kesehatan dan dikoordinasikan oleh oleh Kementerian Koperasi dan UKM dengan melibatkan 9 agregator, termasuk PT Eco Fesyen Indonesia yang digawangi oleh  

“Kami melibatkan 20 orang tuna daksa di DI Yogyakarta yang sebagian besar adalah para atlet paralympic,” sebutnya. Sampai saat ini total dihasilkan 1.279.905 buah masker yang melibatkan para pengrajin batik dan tenun di DI
Yogyakarta dan Jawa Tengah. 

“Saya juga merasa senang dan bersyukur karena bisa turut membantu roda perekonomian UKM dan kaum difabel kembali bergerak,” Merdi menegaskan. Bahkan yang membanggakan, upayanya mendapatkan apresiasi Teten Masduki dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Dedikasi Merdi Sihombing untuk melestarikan lingkungan, juga membuatnya diajak menggarap Gerakan menanggulangi sampah laut (marine debris), yang dilakukan oleh UNDP, Kemenko Maritim, Kemenkop & UKM serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

“Sebagai negara kelautan dan kepulauan, masyarakat Indonesia harus mulai berbuat sesuatu untuk mengatasi sampah di laut. Kami akan membuat tas belanja dari bahan karung bekas kopi dan cokelat yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat.

Gerakan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kita harus peduli terhadap limbah plastik.”

WhatsApp%2BImage%2B2020 11 06%2Bat%2B13.50.15

Merdi mengumumkan pula sebuah acara bertajuk Forum Bincang yang akan berlangsung pada 21-22 November 2020 mendatang. Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini akan menggelar berbagai cara seperti diskusi, pameran dan pemutaran film.

Diketahui, FBLHL diselengarakan Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari akan menampilkan pembicara yang sangat dekat dengan Laku Hidup Lestari, seperti masyarakat kasepuhan Ciptagelar, masyarakat Bali Aga yang memproduksi Tenun Gringsing.

Tenun Gringsing ini adalah tenun double ikat, yang hanya terdapat di 3 tempat di dunia, salah satunya di Bali, Indonesia. Juga ada Batik Losari dan anyaman purun dari lahan gambut. Event ini akan diselenggarakan di Bali Purnati,
Ubud. ***

Artikel Lainnya

Terkini