Tabanan – Pemerintah Kabupaten Tabanan kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kearifan lokal Bali melalui perayaan Hari Suci Tumpek Uye. Momentum ini dipandang sebagai langkah konkret implementasi visi “Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani (AUM)” dalam aspek ekologis dan spiritual.
Hari Suci Tumpek Uye, atau yang akrab disapa Tumpek Kandang, jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye. Tradisi ini menjadi ruang bagi umat Hindu untuk memuliakan hewan ternak dan peliharaan sebagai bentuk syukur atas kontribusinya terhadap kehidupan manusia.
Dalam pelaksanaannya, warga melakukan ritual khusus seperti memandikan, menghias, hingga memberikan sesajen dan doa bagi berbagai jenis hewan, mulai dari sapi, kerbau, hingga hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menjelaskan perayaan ini merupakan aplikasi nyata dari ajaran Tat Twam Asi (aku adalah engkau, engkau adalah aku).
“Hewan bukan sekadar objek yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari semesta yang harus diperlakukan dengan kasih sayang dan tanggung jawab,” ujar Bupati Sanjaya dikonfirmasi, Jumat (6/2).
Selain aspek religius, Bupati Sanjaya menekankan, Tumpek Uye mengandung nilai Ahimsa (tanpa kekerasan) yang menjadi bagian dari konsep Tri Hita Karana. Nilai-nilai ini dianggap sangat relevan untuk menjawab tantangan krisis lingkungan global dan perubahan iklim saat ini.
Poin-poin Utama Esensi Tumpek Uye di Tabanan:
Pendidikan Karakter: Melibatkan generasi muda untuk menanamkan empati dan rasa hormat terhadap hak hidup makhluk lain sejak dini.
Keseimbangan Ekosistem: Menjaga kelestarian fauna sebagai fondasi lingkungan yang berkelanjutan.
Implementasi Visi AUM: Mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam kebijakan pembangunan daerah yang berbasis kearifan lokal.
Melalui pelestarian tradisi ini, Pemkab Tabanan berharap masyarakat tidak hanya melihat ritual sebagai seremonial, tetapi sebagai gaya hidup untuk menjaga keharmonisan alam demi masa depan Tabanan yang lebih hijau dan berkelanjutan. ***

