Denpasar – Komisaris PT Telkom, Rizal Malaranggeng, menegaskan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dunia telah menyaksikan perubahan teknologi yang luar biasa, khususnya di bidang digital dan komunikasi.
Transformasi ini begitu cepat: dari era ponsel sederhana hingga kehadiran smartphone yang menggeser dominasi Nokia menjadi iPhone, serta munculnya aplikasi-aplikasi baru seperti WhatsApp, Facebook, dan Google yang kini mendominasi komunikasi global.
Telkom sendiri merespons perubahan ini dengan langkah besar: mengganti kabel tembaga menjadi serat optik dan meluncurkan layanan IndiHome.
“Peralihan ini bukan sekadar investasi besar, tetapi sebuah lompatan teknologi yang fundamental,” ujar Rizal dalam Media Gathering “TLKM 30: Menyatukan Teknologi, Konten dan Distribusi untuk Pertumbuhan Bersama 5-6 Februari 2026.
Ia membandingkan dengan sektor listrik yang selama puluhan tahun nyaris tidak mengalami perubahan mendasar, sementara dunia telekomunikasi justru bergerak sangat dinamis.
Rizal juga menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.
Tiga dekade lalu, pendapatan per kapita Indonesia masih sekitar 1.500 dolar, kini melonjak hingga 23.000 dolar.
Pertumbuhan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih banyak bepergian, membeli tiket, dan memanfaatkan layanan transportasi.
Fenomena Lion Air yang tumbuh dari perusahaan kecil menjadi raksasa penerbangan adalah contoh nyata bagaimana swasta mampu memanfaatkan momentum ekonomi.
Namun, tantangan ke depan jauh lebih besar. Rizal menekankan bahwa dalam 10 tahun mendatang, teknologi baru berpotensi mengubah fundamental bisnis telekomunikasi.
“Saat ini kita masih bergantung pada BTS, tetapi dengan ribuan satelit orbit rendah yang sedang dikembangkan, komunikasi bisa langsung terhubung dari ponsel ke satelit. Jika teknologi ini matang, model bisnis telekomunikasi akan berubah drastis,” jelasnya.
Telkom, menurut Rizal, sudah mengambil langkah antisipatif dengan menjalin kerja sama sejak dini, termasuk dengan Starlink.
“Kita harus ikut dari awal, memantau perkembangan, dan memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam revolusi teknologi global,” tegasnya.
Transformasi ini, kata Rizal, adalah pelajaran berharga: teknologi selalu menjadi kunci perubahan. Dari kabel tembaga ke serat optik, dari ponsel sederhana ke smartphone, dan kini dari BTS ke satelit.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia kembali menjadi salah satu yang paling berhasil dalam dekade mendatang? ***

