Rupiah Sentuh Rp 17.000, Pemerintah Diminta Kendalikan Harga Pangan

Ketergantungan Indonesia pada impor sejumlah komoditas strategis dinilai membuat harga pangan domestik rentan terhadap gejolak kurs.  

26 Maret 2026, 17:59 WIB

Yogyakarta – Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan nasional.

Ketergantungan Indonesia pada impor sejumlah komoditas strategis dinilai membuat harga pangan domestik rentan terhadap gejolak kurs.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hani Perwitasari, menjelaskan fluktuasi nilai tukar berdampak berbeda pada tiap komoditas.

Menurutnya, pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga pangan antara 2 hingga 8 persen, bergantung pada kondisi pasokan dan jenis komoditas.

Komoditas dengan ketersediaan cukup di dalam negeri relatif lebih tahan terhadap tekanan kurs. Sebaliknya, produk yang sulit disubstitusi seperti daging, telur, dan susu menjadi kelompok paling rentan terdampak.

“Semakin tinggi impornya, maka akan semakin rentan terhadap gejolak kurs,” ujar Hani, Kamis (26/3/2026).

Selain harga jual, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan karena sebagian input masih bergantung pada pasar global.

Hani menekankan perlunya pengendalian harga jangka pendek melalui data produksi dan kebutuhan pangan yang akurat agar kebijakan impor dapat tepat sasaran.

Dalam jangka panjang, penguatan produksi dalam negeri disebut sebagai kunci mengurangi ketergantungan impor.

Dukungan kepada petani melalui akses pembiayaan, subsidi input, hingga perlindungan asuransi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Ia juga menekankan peran konsumen dalam memilih produk lokal sebagai dorongan bagi penguatan pangan nasional.***

Berita Lainnya

Terkini