Yogyakarta– Ajang lari lintas alam bergengsi, Coast to Coast Night Trail Ultra (CTC) 2026, siap kembali menghentak pesisir Pantai Selatan Kabupaten Bantul pada 14-15 Februari mendatang.
Memasuki usia satu dekade, edisi ke-10 ini mencatatkan lonjakan peserta yang signifikan, mencapai 5.888 pelari dari 23 negara.
Diselenggarakan komunitas Trail Runners Yogyakarta (TRY), ajang CTC 2026 tetap mempertahankan identitasnya sebagai night trail run, di mana pelari ditantang menaklukkan medan berat dalam kegelapan malam.
Sebagai anggota resmi International Trail Running Association (ITRA) sejak 2016, CTC 2026 menawarkan daya tarik besar bagi pelari profesional. Kategori 30K, 50K, 80K, dan 100K dalam ajang ini secara resmi memberikan ITRA Point dan UTMB Index.
Poin ini merupakan syarat mutlak bagi pelari yang ingin berlaga di kancah lari trail paling prestisius di dunia yang berlangsung di Prancis.
“Konsep malam hari kami usung untuk memberikan pengalaman nyata bagi pelari ultra trail. Di lomba besar dunia, mereka pasti akan menemui kondisi malam. Experience inilah yang kami tawarkan sebagai bekal mereka,” ujar Roostian Gamananda, Race Director CTC 2026, dalam jumpa pers Minggu (8/2).
Tahun ini, panitia menghadirkan enam kategori lomba: 7K Cross Country, 15K, 30K, 50K, 80K, 100K Full Course, serta kategori terbaru 100K Relay of 4. Kembalinya kategori 100K menjadi sorotan utama mengingat tingkat persiapan teknisnya yang sangat kompleks.
Daya tarik CTC juga merambah skala global. Pelari dari berbagai belahan dunia, mulai dari Rusia, Amerika Serikat, Jerman, hingga negara-negara Afrika, dipastikan hadir.
“Biasanya trail didominasi pelari Asia Tenggara dan Eropa, tapi kali ini ada negara baru dari Afrika dan USA yang ikut bergabung,” tambah Roostian.
Menyadari risiko tinggi lari malam hari, panitia menerapkan standar keselamatan berlapis:
Fasilitas Medis: Penyediaan dua unit Mini ICU (statis dan mobile), ambulans di setiap water station, serta tim medis respons cepat bermotor.
Mitigasi Cuaca: Jika terjadi cuaca ekstrem atau petir, panitia telah menyiapkan skema penundaan lomba hingga 120 menit demi keamanan peserta.
Inklusivitas: CTC 2026 menggandeng Komunitas Bawayang untuk menyediakan interpreter bahasa isyarat bagi pelari tuli di kategori 7K.
Kehadiran ribuan pelari mancanegara ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi dan pariwisata DIY. Rute lomba akan melintasi ikon-ikon wisata seperti Pantai Parangtritis, Gumuk Pasir, Goa Jepang, hingga Pantai Cemara Sewu.
Anggota DPRD DIY, Mlisman Puja Kesurma, dan Direktur Pemasaran Pariwisata BPOB, Harfiansa Bimatara, senada menyebut CTC sebagai event strategis.
“Ini bukan sekadar olahraga, tapi pengalaman menjelajah alam yang menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan sekaligus mempromosikan destinasi wisata Jogja ke dunia internasional,” pungkas Harfiansa. ***

