Serangan AS-Israel ke Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Pupuk, Indonesia Diminta Antisipasi

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof. Subejo menyebut kelangkaan pupuk kimia dapat diantisipasi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

30 Maret 2026, 21:57 WIB

Yogyakarta – Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai dapat mengganggu pasokan pupuk berbasis nitrogen dari negara-negara Teluk, yang selama ini menjadi produsen utama dunia.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pangan global, termasuk di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyebut kelangkaan pupuk kimia akibat konflik memang berisiko, namun dapat diantisipasi dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

“Kalau pupuk organik dan pupuk hayati sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia sebagian bahannya memang harus impor,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Menurut Subejo, jika serangan berlangsung lama dan kapal pengangkut bahan baku pupuk terhambat masuk ke Indonesia, risiko kekurangan pupuk kimia akan meningkat.

Meski demikian, ia menilai situasi ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat produksi pupuk dalam negeri.

“Tetap ada risiko kekurangan pupuk kimia, tapi kita berkesempatan mengganti dengan pupuk organik. Jika pemerintah, swasta, dan masyarakat serius, ini momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang kita punya,” terangnya.

Ia menambahkan, apabila pasokan pupuk tidak segera membaik, stok untuk musim tanam berikutnya akan terdampak.

Saat ini pemerintah masih memiliki cadangan pupuk untuk musim tanam berjalan, namun periode Juni–Juli diperkirakan berisiko jika distribusi bahan baku terganggu.

Subejo menekankan, meski potensi pupuk organik di Indonesia besar, kebutuhan pupuk kimia tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan. Jika stok pupuk kimia berkurang hingga 50 persen, produksi pangan akan menghadapi ancaman serius.

Karena itu, ia mendorong antisipasi sejak dini, termasuk produksi pupuk organik di tingkat desa melalui kelompok tani maupun BUMDes.

“Bantuan mesin pupuk tidak harus besar, tetapi cukup untuk produksi di tingkat desa. Jika tidak disiapkan sejak sekarang, ketika bahan baku benar-benar tidak bisa masuk, petani akan kesulitan memproduksi komoditas dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong edukasi agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia.

“Jika tidak disiapkan, kelangkaan akan membuat harga pupuk sangat mahal dan masyarakat bisa kolaps. Tapi kalau strategi dilakukan melalui penyuluhan, pengadaan mesin, dan pelatihan, ini kesempatan baik untuk mulai beralih,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini