Tabanan– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah merambah hingga ke tingkat desa, menjadikan Desa Kukuh, Krambitan, Tabanan, sebagai panggung penting untuk meluncurkan gerakan literasi gizi dan informasi yang jernih.
Sosialisasi melibatkan sinergi antara legislatif pusat, daerah, dan Badan Gizi Nasional (BGN) ini bukan sekadar agenda distribusi, melainkan panggilan seluruh orang tua untuk menjadi pilar utama keberhasilan program.
Fokus utama kegiatan adalah memutus rantai informasi simpang siur yang kerap menghambat program pemerintah.
Anggota DPRD Kabupaten Tabanan, I Wayan Lara, menyorot MBG adalah instruksi nasional yang wajib dikawal hingga tepat sasaran.
“Kita harus memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang jernih dan tidak simpang siur. Orang tua perlu memahami bukan hanya apa yang diberikan dalam program ini, tetapi juga nilai gizinya. Semua ini bertujuan memastikan anak-anak kita tumbuh dengan baik,” tegas Lara.
Lebih dari itu, Lara mendorong adanya saluran komunikasi dua arah yang terstruktur—mulai dari pusat aduan hingga kanal apresiasi.
Hal ini memastikan masyarakat tidak hanya memiliki ruang untuk melaporkan tantangan, tetapi juga kesempatan untuk merayakan keberhasilan program bersama.
Perwakilan Promosi dan Edukasi BGN, Ade Tias Maulana, memperkuat pesan tersebut, menyatakan program MBG adalah gerakan edukasi yang harus berakar di setiap rumah.
Menurutnya, pemahaman mendalam tentang gizi adalah kunci agar distribusi makanan dapat memberikan dampak kesehatan jangka panjang.
“Program ini akan berjalan optimal jika disertai pemahaman yang baik dari masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa orang tua memahami mengapa gizi seimbang penting—melampaui sekadar menerima makanan yang disalurkan melalui program,” jelas Ade.
Sosialisasi di Desa Kukuh ini menegaskan ulang janji Program MBG: ini adalah investasi jangka panjang bagi generasi muda Indonesia.
Melalui sinergi solid antara pemerintah, BGN, tokoh daerah, dan masyarakat, diharapkan program ini dapat membentuk fondasi kesehatan yang kuat, menjadikan literasi gizi sebagai warisan paling berharga bagi anak-anak Bali. ***

