Sultan HB X Ungkap Kebutuhan Dana Rp 19 M untuk Selamatkan Jembatan Kewek Peninggalan Belanda

Sultan HB X menegaskan penanganan Jembatan Kewek dan Malioboro harus dilakukan bertahap lantaran terbentur ketersediaan anggaran.

5 Desember 2025, 04:21 WIB

Yogyakarta– Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, bergerak cepat merespons kondisi kritis Jembatan Kewek, peninggalan era Belanda, yang dikhawatirkan ambrol.

Dalam pertemuan tertutup maraton dengan jajaran OPD dan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Balai Kota, Kamis (4/12/2025), Sultan menetapkan prioritas mendesak untuk perbaikan infrastruktur vital ini, di samping rencana penataan Malioboro.

Setelah pertemuan tiga jam di Ruang Yudhistira, Sultan HB X menegaskan penanganan Jembatan Kewek dan Malioboro harus dilakukan bertahap lantaran terbentur ketersediaan anggaran.

“Kita fokus dulu pada dua hal, Malioboro dan Jembatan Kewek. Semua kan pakai dasar anggaran.

Untuk sementara ini, perbaikan Jembatan Kewek akan difokuskan pada antisipasi agar tidak membahayakan dari kemungkinan longsor atau penurunan struktur akibat hujan,” ujar Sultan.

Artinya, langkah penyelamatan awal akan menitikberatkan pada pencegahan risiko jangka pendek, sementara studi teknis dan perhitungan anggaran komprehensif terus dikebut.

Menyadari besarnya risiko, Pemda DIY secara resmi telah mengajukan permohonan dukungan anggaran ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Angka fantastis terungkap: total kebutuhan anggaran perbaikan Jembatan Kewek diperkirakan mencapai Rp 19 miliar!

Pembiayaannya sudah kita sampaikan ke departemen APBN, yaitu PU. Total sekitar 19 miliar. Enam miliar itu untuk paket penyangga. Kita berharap bisa dibantu APBN, apalagi ini juga penting untuk cegah longsor sekaligus menyambut wisatawan saat Nataru.

“Jogja diprediksi menjadi salah satu tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara,” tegas Sultan, menekankan urgensi proyek ini bagi keamanan dan citra pariwisata.

Meskipun Jembatan Kewek menjadi perhatian utama karena isu keselamatan, rencana penutupan total Malioboro menjadi kawasan pedestrian juga dibahas.

Sultan memastikan kebijakan ini masih dalam tahap identifikasi. Uji coba yang dilakukan Pemkot Yogyakarta bertujuan memetakan secara cermat kebutuhan di lapangan, terutama terkait parkir dan fasilitas moda transportasi tradisional.

Sekarang didentifikasi dulu kekurangannya apa, entah parkir becak atau andong. Dengan percobaan ini kita bisa memetakan manfaat dan kekurangannya.

“Tidak mesti ditutup langsung, tapi kita harus pastikan seluruh prasarana pendukung memadai, termasuk relokasi bus dan penataan moda transportasi tradisional,” jelasnya.

Sultan menambahkan keputusan teknis dan prioritas akan ditentukan dengan matang.

“Apakah memungkinkan tahun depan Malioboro ditutup total? Kalau belum, kita tentukan dulu apa yang harus dikerjakan untuk mengurangi beban. Tidak harus tergesa-gesa,” pungkasnya.

Pihaknya menjamin keselamatan Jembatan Kewek dan kenyamanan Malioboro bagi wisatawan adalah tujuan utama. ***

Berita Lainnya

Terkini