Sunrise Land Lombok: Destinasi yang Tumbuh dari bawah, Kini Terancam oleh Kebijakan Sepihak

Bagi masyarakat Lombok Timur, Sunrise Land bukan sekedar objek wisata namun bukti nyata  pariwisata bisa tumbuh dari bawah.

13 Januari 2026, 10:16 WIB

Selong –  Di balik pesona fajar Sunrise Land Lombok, Pantai Labuhan Haji destinasi wisata yang lahir dari kegigihan tangan-tangan lokal, kini berada di persimpangan jalan.

Bagi masyarakat Lombok Timur, Sunrise Land bukan sekedar objek wisata namun bukti nyata  pariwisata bisa tumbuh dari bawah.

Dirintis dengan segala risiko oleh putra daerah, tempat ini berhasil disulap dari pesisir yang terlupakan menjadi ikon wisata hype di Lombok Timur.

Kehadirannya tak hanya memanjakan mata wisatawan, tapi juga menjadi tumpuan ekonomi dengan membuka lapangan kerja bagi warga lokal. Namun, di saat destinasi ini mulai memetik buah kegigihannya, sebuah kabar pahit datang dari meja birokrasi.

Direktur sekaligus perintis Sunrise Land Lombok, Qori, mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan otoritas setempat yang secara sepihak membatalkan perpanjangan kontrak kerja sama. Padahal, proses administrasi disebut sudah mencapai tahap final.

“Secara sepihak mereka batalkan perpanjangan PKS, malah kami diminta mengosongkan pantai,” ujar Qori dalam keterangannya.

Alasannya pun memicu tanda tanya besar: munculnya kandidat investor dari Jakarta yang menjanjikan pengembangan besar-besaran. Di hadapan modal raksasa, para perintis lokal ini seolah dipaksa menyerah kalah.

Kebijakan ini dianggap tidak transparan dan minim dialog partisipatif. Ada kekhawatiran besar bahwa tata kelola pariwisata di Lombok Timur mulai kehilangan “ruh” pemberdayaannya. Jika kebijakan hanya didorong oleh keuntungan jangka pendek kaum elit, maka masyarakat lokal—sang pemilik tanah sebenarnya—hanya akan berakhir menjadi penonton di rumah sendiri.

“Investor lokal ini bukan pendatang dengan modal besar. Kami adalah bagian dari masyarakat yang terpanggil untuk merintis tempat ini,” tambah Qori.

Ia menegaskan, keberpihakan pemerintah seharusnya dibuktikan melalui kebijakan adil, bukan sekadar slogan.

Apa yang terjadi pada Sunrise Land Lombok menjadi preseden bagi masa depan pariwisata daerah. Pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang menguatkan komunitas, melindungi inisiatif rakyat, dan memberikan rasa aman bagi mereka yang telah berdarah-darah membangun potensi dari nol.

Sudah saatnya tata kelola pariwisata dibersihkan dari manuver politik yang sarat kepentingan kelompok. ***

Berita Lainnya

Terkini