Denpasar – Keyakinan konsumen di Bali terhadap kondisi ekonomi masih terjaga pada Januari 2026.
Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 135,5, turun 2,8% secara bulanan berada di level optimis (>100).
Optimisme konsumen terutama ditopang kelompok berpendapatan Rp5–6 juta (146,7), >Rp8 juta (139,9), Rp7–8 juta (139,6), serta Rp1–2 juta (139,4). Dari sisi pekerjaan, responden di sektor indeks 143,9, sementara sektor informal 123,4.
Meski demikian, laju IKK tertahan oleh penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 147,8 menjadi 142,7 (-3,5% mtm).
Faktor penahan berasal dari indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang (-4,9% mtm menjadi 145,0), indeks penghasilan (-3,1% mtm menjadi 142,0), serta indeks kegiatan usaha (-2,4% mtm menjadi 142,0).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya kunjungan wisatawan pasca libur Natal dan Tahun Baru 2025.
Data Angkasa Pura menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara dan domestik menurun 12,4% mtm, dengan total kunjungan 917 ribu orang.
Penurunan ini berdampak pada terbatasnya lapangan kerja harian serta berkurangnya pendapatan tambahan pekerja sektor akomodasi dan transportasi.
Sejalan dengan IEK, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga melemah dari 131,0 menjadi 128,3 (-2,0% mtm).
Perlambatan terutama disebabkan oleh penurunan indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan lalu (-2,9% mtm menjadi 135,5). Sementara itu, indeks kegiatan usaha stagnan di level 100,0, namun konsumsi barang tahan lama meningkat 1,3% mtm menjadi 118,5.
Meski terjadi perlambatan, IKK dan IEK masih berada di level optimis. Bank Indonesia Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bersinergi menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Imlek dan Ramadan.
Upaya dilakukan melalui operasi pasar murah, pengawasan harga pangan utama, distribusi pasokan, hingga vaksinasi ternak sapi untuk mengantisipasi Lumpy Skin Disease (LSD).
Pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, suku bunga Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali juga berkomitmen menjaga citra pariwisata melalui program pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan Teba Modern dan Gerakan Bali Bersih Sampah.
Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu mendukung stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth) di Bali. ***

