![]() |
Causa Iman Karana (dok.kabarnusa) |
DENPASAR – Upaya pengendalian inflasi di Provinsi Bali masih menghadapi tantangan ganda mulai anomali cuaca yang menyebabkan gangguan pasokan terhadap komoditas pangan hingga kebijakan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana menyebutkan, tekanan inflasi Bali tahun 2017 tercatat sebesar 0,48 persen, sehingga secara komulatif inflasi Bali sebesar 1,95 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 0,23 persen secara bulanan dan 1,21 persen secara komulatif.
Iman mengungkapkan, upaya menekan laju inflasi menghadapi berbagai tantangan yakni potensi peningkatan permintaan yang seiring dengan perkiraan peningkatan kunjungan wisman.
Kemudian, anomali cuaca karena pengaruh risiko el Nino Mei tahun 2017 serta risiko kenaikan harga minyak dunia yang menjadi acuan harga kelompok admnistered prices serta perayaan Hari Nyepi yang berdekatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Untuk itulah, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali melakukan rapat koordinasi lewat pertemuan teknis provinsi hingga kabupaten dan kota serta menggelar rangkaian pasar murah.
Beberapa poin penting yang dibahas seperti dampak perayaan Hari Nyepi dan Galungan pada inflasi berdasar data historis sejak dua tahun terakhir.
Iman menambahkan, kondisi ketersediaan pangan mulai menunjukkan perbaikan seperti beras yang mulai terlihat ada peningkatan realisasi sehingga mengalami puncak panen pada bulan April mendatang.
“Persediaan stok pangan yang memadai hingga delapan bulan ke depan,” jelas Iman dalam keterangan resminya di sela perpisahan dengan pejabat BI Eddy Kristianto yang pindah tugas ke Departemen Pengelolaan Logistik dan Fasilitas (DPLP) BI Pusat di Jakarta, Kamis (30/3/17).
Selain itu, akan mengoptimalkan dalam jangka pendek operasi pasar dan pasar murah guna mengantisipasi gejplak harga khususnya waktu-waktu yang rawan kenaikan harga pangan di bulan tertentu seperti Hari NYepi, Galungan dan Kuningan.
Ditambahkan Iman, masalah lain yang dibahas TPID terkait kondisi harga elpiji di PUlau Nusa Penida yang merupakan pulau terluar di Bali, karena ketiadaan pangkalan dan agen resmi Pertamina yang menyebabkan harga elpiji lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET). (rhm)