Transformasi Kali Code: Dari Tantangan Sampah Menuju Peluang Ekonomi Berbasis Komunitas

Warga Kelurahan Prawirodirjan dan Wirogunan membuktikan menjaga aliran Kali Code dapat beriringan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

22 Januari 2026, 05:34 WIB

Yogyakarta– Kelestarian sungai kini bukan lagi sekadar urusan lingkungan, melainkan telah bergeser menjadi gerakan ekonomi kreatif.

Di wilayah Surokarsan, warga Kelurahan Prawirodirjan dan Wirogunan membuktikan menjaga aliran Kali Code dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan, sekitar 30 warga kini berdiri di garda terdepan sebagai penjaga sungai.

Fokus mereka jelas: menjaga ekosistem sungai sekaligus menangkap peluang pengembangan kawasan yang diamanatkan oleh Pemkot Yogyakarta.

Masalah klasik sungai perkotaan adalah tumpukan sampah, terutama saat debit air naik dan limbah tersangkut di bendungan.

Ketua komunitas, Sodik Ritwanto, menyebut hal ini sebagai “PR Besar”. Namun, tantangan ini kini dijawab dengan rencana kolaborasi bersama Kampung Wisata Suro Amerto.

Strategi yang diusung bukan lagi sekadar membersihkan, melainkan mengelola. Sesuai arahan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, komunitas ini didorong untuk mengolah sampah organik dari sungai menjadi pupuk.

Komunitas peduli sungai bisa berkembang mengolah sampah menjadi pupuk yang bisa dibeli oleh DLH (Dinas Lingkungan Hidup).

” Jadi mereka produktif, ada hasil yang didapat dari kerja keras menjaga sungai,” jelas Hasto saat meninjau lokasi, Rabu (21/1/2026).

Selain pengolahan limbah, kawasan Bendung Surokarsan diproyeksikan menjadi magnet wisata lokal. Dengan pemanfaatan ruang publik di pinggir sungai, masyarakat berencana menggelar pentas seni dan budaya secara rutin, terutama pada malam libur.

Langkah ini dinilai efektif oleh Wali Kota karena menciptakan sistem pengawasan alami. “Kalau kepedulian tumbuh dari masyarakat sendiri, mereka akan merasa memiliki. Jika ada yang membuang sampah, tetangganya yang akan langsung mengingatkan,” tambahnya.

Di sisi lain, perubahan perilaku masyarakat juga didukung oleh kebijakan Pemkot melalui sistem transporter sampah.

Sistem ini mempermudah warga membuang sampah pada tempatnya, sehingga mengurangi godaan untuk membuang limbah ke sungai. Meski masih ditemukan satu-dua pelanggaran, edukasi yang dilakukan komunitas secara persuasif perlahan mulai membuahkan hasil.

Gerakan di Surokarsan ini menjadi prototipe penting bagi pengelolaan sungai di Yogyakarta: bahwa sungai yang bersih adalah aset, dan komunitas yang berdaya adalah kunci keberlanjutannya. ***

Berita Lainnya

Terkini